Dosa Ghibah Bertingkat Sesuai Siapa yang Dighibah

654

Ghibah termasuk dosa besar secara mutlak, dan ia bisa berlipat ganda dosa dan hukumannya jika dengannya timbul kejelekan yang lebih banyak.

Maka, mengghibah kerabat tidaklah seperti mengghibah orang yang bukan kerabat, karena ghibah terhadap kerabat mengandung dosa ghibah dan memutus persaudaraan.

Begitu pula ghibah terhadap tetangga, tidak seperti ghibah terhadap orang yang rumahnya jauh, karena ghibah terhadap tetangga berarti menafikkan sabda Nabi:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره

"Siapa yang beriman dengan Allah dan hari Akhir, maka hendaknya ia memuliakan tetangganya"

Dan ia juga terjatuh dalam hadits Nabi:

والله لا يؤمن والله لا يؤمن والله لا يؤمن من لا يأمن جاره بوائقه

"Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman, orang yang tetangganya tidak aman dari buruk perilakunya"

Karena ghibah terhadap tetangga termasuk gangguan.

Kemudian, ghibah terhadap ulama tidaklah seperti ghibah kepada orang awam, karena ulama memiliki keutamaan dan kedudukan serta kehormatan yang sesuai dengan keadaan mereka. Dan karena ghibah terhadap ulama menyebabkan perendahan terhadap mereka, dan jatuhnya mereka di mata manusia.

dan lebih lanjut lagi, menjadikan orang meremehkan apa yang mereka katakan tentang syariat Allah, dan orang tidak lagi menganggap perkataan mereka, maka ketika itu syariat akan terabaikan.

Disebabkan ghibah terhadap ulama, maka orang-orang pun menjadikan orang bodoh sebagai rujukan dalam berfatwa tanpa ilmu.

Begitu pula ghibah terhadap pemerintah, yang Allah jadikan mereka berkuasa atas manusia, maka ghibah terhadap mereka berlipat ganda. Karena ghibah kepada mereka melazimkan peremehan terhadap mereka di mata masyarakat dan jatuhnya wibawa mereka.

Jika wibawa mereka telah jatuh, maka negeri akan rusak, dan akan muncul fitnah dan kekacauan, kejelekan dan kerusakan. Walaupun yang mengghibah pemerintah ini menginginkan perbaikan, akan tetapi kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada perbaikannya.

Dan apa yang diakibatkan dari ghibah kepada pemerintah tersebut menjadi dosa yang lebih besar dari dosa yang mereka lakukan. Karena ketika kedudukan penguasa menjadi rendah di hati manusia, maka rakyat akan bersikap menentang kepada pemerintah, dan tidak peduli ketika mereka menyelisihi dan memisahkan diri dari pemerintah. Dan ini tidak diragukan lagi bukan merupakan perbaikan. Bahkan ia merupakan kerusakan dan gangguan bagi keamanan, serta agen penebar kekacauan.

Maka wajib menasehati ulil amri, baik dari kalangan ulama maupun pemerintah, dengan cara yang bisa mengangkat kerusakan, dan mendatangkan mashlahat. Bahkan hendaknya dilakukan dengan cara rahasia, dengan penuh adab dan penghormatan, karena yang demikian lebih diharapkan untuk bisa diterima, dan lebih mudah untuk kembali dari berlama-lama di atas kebatilan...

Diterjemahkan dari potongan penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin ketika ditanya mengenai apakah Haji menghapuskan dosa besar?

http://binothaimeen.net/content/11467

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami