Jangan Tertipu Dengan Dirimu

162

Jangan Tertipu Dengan Dirimu

Pembaca Rahimakumullah,

Banyak orang yang melakukan amalan baik namun ia tertipu dengan amalnya tersebut. Betapa banyak kita dapatkan orang yang beramal baik, namun masih terselip perasaan riya, ujub, dan sombong pada dirinya. Seakan-akan dirinya telah melakukan ibadah terbaik dan terikhlas. Padahal hanya menginginkan pujian dan sanjungan manusia. Maka mari kita simak baik-baik perkataan salah seorang ulama besar yaitu Abu Malik kepada sahabatnya,

عن محمد بن مالك بن ضيغم قال : حدثني مولانا أبو أيوب قال : قال لي أبو مالك يوما : يا أبا ايوب احذر نفسك على نفسك ، فان هموم المؤمنين في الدنيا لا تنقضي ، وأيم الله لئن لم تأت الآخر بالسرور لقد اجتمع عليه الأمران : هم الدنيا وشقاء الآخرة . قال قلت : بأبي أنت وكيف لا تأتيه الأخرة بالسرور وهو ينصب لله في دار الدنيا ويدأب؟ قال : يا أبا أيوب فكيف بالقبول وكيف بالسلامة ؟ ثم قال : كم من رجل يرى أنه قد أصلح شأنه، قد أصلح قربانه، قد أصلح همته ، قد أصلح عمله، يُجمع ذلك يوم القيامة ثم يُضرب به وجه

Dari Muhammad bin Malik bin Dhaigham berkata, dari tuan kami Abu Ayyub berkata, Suatu hari Abu Malik berkata kepadaku, “Wahai Abu Ayyub, berhati-hatilah terhadap dirimu. Aku melihat bahwa kegalauan seorang mukmin di dunia tidaklah ada habisnya. Demi Allah, seandainya kebahagiaan tidak datang kepada seorang mukmin di akhirat, maka akan terkumpul pada dirinya 2 keadaan, yaitu : kesedihan di dunia, dan kesengsaraan di akhirat. Lalu aku berkata, “Demi Allah, bagaimana kebahagiaan di akhirat tidak dapat dicapai sedangkan di dunia mereka telah bersusah payah dan bersungguh-sungguh? Abu Malik berkata, wahai Abu Ayyub, dari mana kamu tahu amalan mereka diterima dan keselamatan mendatangi mereka? Lalu Abu Malik berkata, “Betapa banyak orang yang memandang dirinya telah baik, ibadahnya telah bagus, cita-citanya telah tinggi, amalnya telah banyak, kemudian Allah kumpulkan pahala itu semua pada hari kiamat lalu dicampakkan di hadapan orang tsb.” (Shifatus Shafwah : 3/360) (Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf, hal 10)

Berhati-hatilah dengan diri kita. Jangan pernah berbangga dengan amalan yang kita miliki. Ketika kita bersedekah, sembunyikan sedekah tersebut sebisa mungkin. Bila kita melakukan amalan sunnah, maka sebisa mungkin kita sembunyikan agar hanya kita dan Allah yang tahu. Inilah ciri seorang mukmin. Semakin banyak ibadahnya semakin takut tidak diterima. Semakin banyak ibadahnya semakin rendah hati di hadapan manusia. Dan tak lupa. Hendaknya seorang mukmin ketika selesai mengerjakan ibadah, maka mintalah kepada Allah agar menerima amal ibadah yang dilakukan. Karena amalan kita diterima atau ditolak adalah hak prerogatif Allah dan bukan kuasa diri kita. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa bukan berusaha lalu memaksa.

 

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Partner Kami