Tegar Walaupun Dihujat

186

Allah memberikan karunia yang banyak kepada manusia, berupa rizki dan yang lainnya. Semua itu adalah nikmat yang patut kita syukuri.

Dan di antara semua nikmat itu, ada satu nikmat yg istimewa, yaitu nikmat iman. Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ ، وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ

"Sesungguhnya Allah memberikan nikmat dunia ini kepada yang Dia cintai maupun tidak. Namun Allah tidaklah memberikan nikmat keimanan kecuali bagi yang Dia cintai"

Dalam keimanan pun, masih ada nikmat yang tidak didapatkan oleh seluruh orang beriman, yaitu nikmat berada di atas jalan Ahlus Sunnah dan terhindar dari kesesatan. Nikmat ini amatlah besar dan berharga, sampai-sampai seorang ulama terdahulu, Imam Abul Aliyah mengatakan:

ما أدري أي النعمتين عَلِيّ أفضل : نعمة أن هداني الله عز وجل للإسلام ، ونعمة إذ لم يجعلني حروريا

"Aku tidak mengetahui mana yang lebih utama di antara dua nikmat yang Allah berikan kepadaku: Nikmat berupa hidayah berada di atas agama Islam, ataukah nikmat bahwa aku tidak termasuk kelompok sesat Haruriyah (Khawarij)"

Oleh sebab itu orang yang mendapatkan hidayah untuk hijrah dari kemaksiatan ataupun kesesatan hendaknya banyak-banyak bersyukur kepada Allah subhanahu wata'ala agar Allah tambahkan nikmat tersebut kepadanya. Sebagaimana firman-Nya:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Jika kalian mensyukuri nikmat-Ku kepada kalian, akan kutambahkan nikmatKu. Dan jika kalian ingkar kepadanya, maka adzabku sangat keras" (QS Ibrahim 7)

Akan tetapi, keadaan setiap orang ketika dia berhijrah menuju hidayah tidaklah sama kondisinya. Ada yang mendapatkan lingkungan yang baik dan mendukung, dan ada yang mendapatkan lingkungan yang masih penuh dengan cobaan. Ketika ia mendapat lingkungan yang tidak mendukung, maka itulah ujian baginya. Sebagaimana sabda Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- :

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

"Akan datang suatu masa dimana orang-orang yang bersabar dalam menjalankan agamanya seperti orang yang memegang bara api"

Realita gangguan orang yang berpegang teguh pada agama sangatlah banyak. Dari zaman Nabi Nuh, Shalih, Nabi Hud, dan lain-lain, sampai masa Nabi Muhammad -shalawatullahi 'alaihim ajma'in-. Bahkan ujian di akhir zaman nanti tak kalah beratnya berupa siksaan, ancaman nyawa, dan lain sebagainya. Maka kalau masih berupa hujatan dan celaan, insyaallah masih belum seberapa.

Di antara wasiat Rasulullah dalam menghadapi celaan seseorang karena berpegang teguh pada agamanya adalah sebagaiman nasehat/wasiat beliau kepada Abu Dzar:

لاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ

"Supaya aku tidak takut celaan orang yang mencela di jalan Allah"

Sedangkan yang berupa teladan perbuatan dari beliau adalah, bahwasanya beliau tidak membalas celaan dengan celaan. Dan seperti itu pula yang yang dilakukan para Nabi ketika mereka dicela sebagai orang bodoh, mereka hanya mengatakan

. لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ,

"Wahai kaumku, aku bukan orang bodoh"

Mereka para Nabi hanya menjawab tuduhan, dan tidak menuduh balik meskipun pada kenyataannya kaumnya lah yang sebenarnya berhak mendapatkan celaan.

Bagaimana agar tetap tegar terhadap gangguan?

Agar kita tetap bisa tegar dan bersabar menghadapi celaan, hujatan ataupun gangguan, maka ada beberapa tips yang disarikan dari penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-:

1. Meyakini bahwa itu semua takdir dari Allah. Semua celaan itu tidaklah membahayakan kita selama Allah tidak berkehendak agar kita celaka. Bukankah Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda:

وإن اجتمعوا علي أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك

"Seandainya seluruh makhluk berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu, hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali yang Allah kehendaki"

2. Meyakini bahwa itu akibat dari dosa-dosa kita. Sebagaimana firman Allah:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri” (QS. Asy Syuraa: 30)

Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu 'anhu- mengatakan:

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Dan musibah tersebut tidak akan hilang kecuali dengan taubat” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

Dengan menyadari bahwa hal itu merupakan akibat dari dosa-dosa kita, maka hal itu menjadikan kita lebih menerima ketetapan Allah berupa ujian celaan, dan memberikan harapan akan dihapuskannya dosa-dosa kita. Dan tentu hal ini adalah pelipur lara yang sangat baik.

3. Mengingat bahwa sabar akan berbuah pahala

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ? فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ? إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim." (QS. Asy-Syura : 40)

Di dalam ayat ini, Allah menyebutkan tingkatan manusia dilihat dari sikap mereka ketika diganggu:

1. Orang yang zhalim, yaitu orang yang membalas keburukan melebihi batasan haknya. Ini Allah sebutkan di akhir ayat.
2. Orang yang proporsional (muqtashid), yaitu orang yang membalas keburukan sesuai batasan haknya. Ini Allah sebutkan di awal ayat.
3. Orang yang mulia (muhsin), yaitu orang yang memaafkan dan meninggalkan haknya sama sekali. Ini Allah sebutkan di tengah ayat.

Sebisa mungkin, maafkanlah orang yang mencela kita, sehingga kita bisa meraih pahala yang banyak dari Allah.

4. Menyadari bahwa memaafkan orang yang mencela adalah lebih membersihkan hati dari noda kebencian, balas dendam, dan yang lainnya. Rasul bersabda:

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

“Allah tidaklah menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Orang yang jiwanya senang balas dendam, cenderung malah tidak tenang dan hatinya kotor. Na'udzubillah.

 

Demikianlah tips agar bisa tegar dalam menghadapi celaan dan hujatan ketika berhijrah kepada kebaikan, semoga kita menjadi orang-orang yang sabar. Aamiin.

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami