Aqidah Ahlus Sunnah Imam Al Humaidy (1) : Makna "Ushulus Sunnah"

75

Pada kesempatan ini dan berikutnya, insyaallah akan secara berkala kami akan membahas aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang ditulis oleh seorang ulama pada masa silam, yaitu Imam Al Humaidy (w. 219 H), yang merupakan guru dari Imam Al Bukhari. Penjelasan atas risalah beliau ini akan mengacu pada kitab kecil berjudul "Fathul Rabbil Ghaniy 'ala Ushulis Sunnah lil Imam Al Humaidy" karya Syaikh Khalid Al Juhany.

Penjelasan Terkait Judul Risalah

Risalah beliau terletak di bagian akhir Musnad Al Humaidy, yang diberi judul Ushulus Sunnah, atau pokok-pokok Sunnah.

Ushul secara bahasa, adalah bentuk jamak dari ashlun (pokok), yaitu asas dari sesuatu. Sedangkan secara istilah, maknanya adalah sesuatu yang mempunyai cabang. Karena cabang tidaklah tumbuh kecuali dari pokok . Maka makna dari pokok atas sesuatu adalah: Apa yang terwujudnya sesuatu tersebut bergantung padanya.

Sedangkan sunnah menurut bahasa adalah metode, dan kebiasaan. Baik itu yang terpuji maupun yang tercela. Sebagaimana dalam firman Allah:

سُنَّةَ مَنْ قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا وَلا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلا

“Yang demikian itu merupakan kebiasaan yang berlaku bagi para rasul Kami yang Kami utus sebelum engkau, dan tidak akan engkau dapati perubahan atas ketetapan Kami.” [QS Al Isra: 77]

Dan sabda Rasulullah:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang mencontohkan jalan/kebiasaan yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang mencontohkan jalan/kebiasaan yang jelek dalam Islam, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.”

[Shahih. Riwayat Muslim (1017) dari hadits Jarir bin Abdullah Al Bajali]

Sedangkan yang dimaksud dengan sunnah dalam pembahasan ini, maknanya adalah aqidah.

Syaikhul Islam mengatakan: “Lafazh sunnah dalam perkataan para salaf masuk dalam masalah ibadah maupun aqidah. Adapun banyak di antara mereka yang menulis buku bertajuk “Sunnah”, maka yang dimaksudkan adalah pembicaraan seputar aqidah. Dan ini sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’b, dan Abud Darda’: Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah. Dan perkataan semisal itu.”

[Al Istiqamah, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 2/310]

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami