Aqidah Ahlus Sunnah Imam Al Humaidy (12) : Tentang Para Sahabat Nabi

18

Imam Al Humaidy berkata:

Dan di antara sunnah adalah mendoakan rahmat kepada Sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam(1) semuanya(2), karena Allah Azza wa Jalla telah berfirman,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.’” (QS. Al-Hasyr : 10) (3)

=========================================================

(1) Perkataan beliau “Dan mendoakan rahmat bagi para sahabat Nabi Muhammad”, kalimat ini ma’thuf (bersambung) dari yang sebelumnya, yaitu, di antara sunnah adalah mendoakan rahmat bagi para sahabat Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- seluruhnya.

Ashaab adalah bentuk jamak dari shahib, sedangkan shahabi adalah siapa saja yang berjumpa Nabi dalam keadaan beriman dan wafat di atas keimanan, walaupun diselingi dengan kemurtadan menurut pendapat yang lebih kuat.

(2) Perkataan beliau “Seluruhnya”, yakni, di antara pokok aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mendoakan rahmat dan keridhoan bagi seluruh sahabat Nabi, karena Allah Ta’ala ridha kepada mereka.

Dalam perkataan beliau ini terdapat bantahan kepada kaum nawashib yang menyatakan permusuhan kepada para sahabat Nabi, dan bantahan kepada Syi’ah Rafidhah yang mengkafirkan banyak sahabat Nabi.

(3) Perkataan beliau “karena Allah Azza wa Jalla telah berfirman,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.’” (QS. Al-Hasyr : 10)

Mereka adalah kelompok ketiga yang mana orang-orang fakir di antara mereka berhak atas harta fai’, merekalah kaum Muhajirin, kemudian Anshar, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, sebagaimana firman-Nya dalam surat Bara’ah:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka.” (QS At Taubah 100)

Maka orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan adalah: Para pengikut atsar atau jejak mereka yang baik, dan sifat-sifat mereka yang mulia, yang mendoakan kebaikan untuk mereka secara sembunyi maupun terang-terangan. Oleh sebab itu Allah Ta’ala berfirman yang artinya

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berkata”, yaitu para pengikut mereka yang berdoa: “Ya Allah ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami ada ghill (dengki)”, yaitu rasa benci dan hasad. “Kepada orang-orang yang beriman, sesungguhnya engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS Al Hasyr: 10)

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami