Aqidah Ahlus Sunnah Imam Al Humaidy (2) : Pengertian Takdir

16

Imam Al Humaidy berkata:

As Sunnah menurut kami(1), adalah seorang laki-laki beriman(2),(3) kepada takdir(4) 

---------------——— ™™™---------------

(1) Perkataan beliau “As Sunnah menurut kami”, maksudnya menurut para imam salafush shalih -semoga Allah merahmati mereka semua. Dan yang dimaksud “Sunnah” di sini adalah aqidah. Dan aqidah disebut dengan Sunnah karena tidak ada ruang untuk pendapat dan ijtihad manusia di dalamnya, melainkan pondasinya murni dari Al Quran dan Sunnah yang shahih.

(2) Perkataan beliau “beriman”, maknanya adalah mengakui, dan membenarkan dengan pembenaran yang pasti.

Iman menurut bahasa maknanya adalah pengakuan dan pembenaran. Dikatakan “Aku beriman terhadap ini” jika dia mengakui dan membenarkannya.

Syaikhul Islam mengatakan: “Telah diketahui bahwa makna iman adalah ikrar (mengakui), tidak sekedar membenarkannya. Dan ikrar mengandung unsur perkataan hati yaitu tashdiq (pembenaran), dan amalan hati, yaitu ketundukan.”

Sedangkan pengertian iman secara syariat, dimutlakkan dan dimaksudkan dengannya ad-diin (agama) secara keseluruhan jika disebutkan secara tersendiri. Dan dimutlakkan dan dimaksudkan dengannya i’tiqad (aqidah) jika disebutkan bersamaan dengan kata Islam.

Di antara penggunaan pengertian yang pertama adalah firman Allah Ta’ala:

وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan Allah adalah Pelindung semua orang yang beriman.” [QS Ali ‘Imran 68]

Dan sabda Nabi:

لا يدخل الجنة إلا نفس مؤمنة

“Tidaklah masuk surga kecuali jiwa yang beriman”

Adapun penggunaan pengertian kedua, adalah seperi dalam firman Allah Ta’ala:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh.” [QS An Nisa 57]

Dan sabda Nabi:

الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله وباليوم الآخر وبالقدر خيره وشره

“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk”

(3) Perkataan beliau “seorang laki-laki (ar-rajulu)”, maknanya adalah seorang hamba, dan masuk di dalamnya wanita. Adapun penyebutan laki-laki di situ dalam rangka keumuman saja. Sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud:

إن الرجل ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار

“Sesungguhnya salah seorang lelaki di antara kamu beramal sampai tidak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali satu hasta, akan tetapi ketetapan untuk dirinya mendahuluinya, maka kemudian ia beramal dengan amalan ahli neraka.”

(4) Perkataan beliau “kepada takdir”: Iman kepada takdir merupakan salah satu di antara rukun iman yang enam, yang tidaklah sempurna iman seorang hamba kecuali dengan mengimani keseluruhannya.

Penulis risalah ini -semoga Allah merahmatinya- menyebutkan iman terhadap takdir tanpa menyebutkan rukun yang lain, disebabkan kebutuhan orang-orang kepadanya, dan karena adanya penyimpangan aqidah masyarakat dalam masalah ini di masa beliau.

Takdir (al-qadar) secara bahasa maknanya adalah al qadha wal hukm (ketetapan dan keputusan), yaitu apa yang Allah berikan ketetapan dari keputusannya, dan Dia putuskan dengannya diantara perkara-perkaranya. Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam qadar.” [Al Qadr: 1]

Yakni, keputusan.

Adapun makna qadar secara syariat adalah apa yang telah Allah tetapkan secara azali (terdahulu), dan Dia ciptakan, dan yang diliputi oleh pengetahuan-Nya yang mendahuluinya, dan Dia tuliskan di Lauh Mahfuzh.

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami