Aqidah Ahlus Sunnah Imam Al Humaidy (21) : Menetapkan Sifat-Sifat Allah Sesuai Hakikatnya  

210

 

Imam Al Humaidy berkata:

Dan apa yang Al Quran dan Hadits sebutkan(1) semisal:

وقالت اليهود يد الله مغلولة غلت أيديهم

“Dan orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu, padahal tangan mereka yang terbelenggu” (2)

Dan firman Allah:

والسموات مطويات بيمينه            

“Dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya” (3)

dan nash yang semisal itu dari Al-Qur’an dan hadits(4) maka kami tidak menambah-nambahnya(5) dan tidak menafsirkannya(6) (secara batil). 

=======================================

(1) Perkataan beliau: “Dan apa yang Al Quran dan Hadits sebutkan”, yaitu keterangan dari Al Quran dan Sunnah Nabi yang shahih tentang nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya.

 

(2) Perkataan beliau “Misal, firman Allah Ta’ala:

وقالت اليهود يد الله مغلولة غلت أيديهم

“Dan orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu, padahal tangan mereka yang terbelenggu”

Ayat ini, di dalamnya terdapat penetapan sifat Tangan bagi Allah Ta’ala, dimana Allah Ta’ala sendiri menetapkan sifat bagi-Nya dan menafikkan aib bagi diri-Nya. Siapa yang mengingkari sifat Tangan bagi Allah Ta’ala, maka dia lebih buruk keadaannya daripada Yahudi. Karena Yahudi menetapkan sifat bagi Allah dan juga menetapkan aib bagi-Nya. Sedangkan mereka -yaitu para pengingkar sifat Allah-, mereka menafikkan sifat sebagaimana mereka menafikkan aib. Dan Tangan Allah adalah hakiki, yang sesuai dengan keagungan Allah dan tidaklah serupa dengan tangan-tangan makhluk-Nya.

Dan Allah Ta’ala berfirman:

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ

“Bahkan kedua Tangan Allah terbuka” (QS Al Maidah 64)

Ayat ini mengkonsekuensikan penetapan dua sifat dzatiyyah yang keduanya disebut dengan yadayn (dua tangan).

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: Allah ‘Azza Wajalla berfirman:

أنفق أنفق عليك

“Berinfaklah, maka Aku akan memberimu nafkah.”

Kemudian beliau bersabda:

يد الله ملأى لا تغيضها نفقة، سحاء الليل والنهار

“Tangan Allah senantiasa penuh dan tidak berkurang dengan pemberian yang mengalir terus di malam dan siang harinya.

 

(3) Perkataan beliau: Misal, firman Allah Ta’ala:

وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ

“Dan langit-langit itu digulung dengan Tangan Kanan-Nya” (QS Az Zumar 67)

Ayat ini menetapkan sifat Tangan bagi Allah Ta’ala berikut keterangan mengenai kanan-nya Tangan Allah. Seandainya ia hanyalah majaz (bukan hakiki) untuk menjelaskan qudrah (kekuasaan) dan nikmat dari Allah, maka tentu tidak akan digunakan lafazh yamin (kanan).

 

(4) Perkataan beliau: “Dan yang semisal itu dari Al Quran dan Hadits.” yaitu yang serupa dengan nash-nash di atas dari Al Quran dan Sunnah yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah Ta’ala. Contohnya firman Allah Ta’ala:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

"Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah Allah" (QS Al Qashash 88)

Dan dari Jabir, bahwa ketika ayat ini turun:

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىٰ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ

Katakanlah: "Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu” (QS An An’am 65)

Rasulullah berdoa: “Aku berlindung dengan Wajah-Mu”, kemudian firman Allah selanjutnya:

أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ

“atau dari bawah kakimu”

Rasulullah berdoa: “Aku berlindung dengan Wajah-Mu”, kemudian firman Allah selanjutnya:

أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا

“atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan”

Beliau bersabda: “Ini lebih ringan”, atau beliau katakan “Ini lebih mudah”

Kemudian firman Allah Ta’ala:

وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي

“..Dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (QS Thaha 39)

Dan firman-Nya Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik” (Al Baqarah 195)

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, Allah Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Dan Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.”

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “Allah tertawa kepada dua orang yang saling membunuh satu sama lainnya, dan mereka berdua masuk surga. Orang yang pertama berperang di jalan Allah, kemudian terbunuh. Kemudian Allah Ta’ala menerima taubat dari pembunuhnya, kemudian ia syahid.”

Dan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda dalam hadits syafaat: “Sesungguhnya Rabbku telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang tidak pernah ada sebelumnya dan tidak pula setelahnya.”

Dan Dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda: Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang membawa ridha Allah, sedangkan ia sendiri tidak terlalu menganggap serius perkataan itu, maka Allah muliakan dirinya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang membawa kemurkaan Allah, sedangkan ia sendiri tidak terlalu menganggap serius perkataan itu, maka dengan itu ia jatuh ke neraka Jahannam.”

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya, jika Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman: Sesungguhnya Aku mencintai Fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril pun mencintainya, dan menyeru ke langit: Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka kalian cintailah dia! Maka penduduk langit pun mencintainya, kemudian dijadikan pula penerimaan baginya di bumi.

Dan jika Allah Ta’ala membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman: Sesungguhnya Aku membenci Fulan, maka bencilah dia. Maka Jibril pun membencinya, kemudian ia menyeru ke langit: Sesungguhnya Allah membenci Fulan, maka kalian bencilah dia! Maka penduduk langit pun membencinya, kemudian dijadikan pula baginya kebencian di bumi.”

Muhammad ibnul Hasan Asy Syaibani mengatakan:

“Seluruh ahli fikih dari timur sampai barat bersepakat untuk beriman kepada Al Quran dan hadits-hadits yang dibawa oleh perawi yang terpercaya dari Rasulullah dalam masalah sifat Rabb ‘Azza Wajalla, tanpa mengubah lafazh atau maknanya, tanpa menggambarkan seperti apa dan bagaimana sifat tersebut, dan tanpa menyerupakan-Nya dengan sifat makhluk.

Maka barangsiapa yang menafsirkan sesuatupun dari semua sifat-sifat itu, maka dia telah memisahkan diri dari al Jama’ah (telah sesat), karena mereka para salaf tidaklah menggambarkan sifat Allah, dan juga tidak menafsirkannya. Akan tetapi mereka hanyalah berfatwa dengan apa yang ada di Al Quran dan Sunnah, kemudian diam. Maka siapa yang berkata dengan perkataan Jahm bin Shafwan, maka dia telah memisahkan diri dari Al Jama’ah, karena Jahm telah mensifati Allah dengan sifat bahwasanya Allah bukanlah sesuatu."

Abul Hasan Al Asy’ari mengatakan: "Mereka bersepakat untuk mensifati Allah dengan semua yang Allah sifatkan sendiri untuk diri-Nya, dan yang disifatkan oleh Nabi-Nya, tanpa merasa keberatan, dan juga tanpa mempertanyakan atau menggambarkan kaifiyahnya, dan iman kepadanya adalah suatu kewajiban, dan meninggalkan penggambaran terhadapnya adalah suatu keharusan."

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami