Aqidah Ahlus Sunnah Imam Al Humaidy (22) : Menetapkan Sifat-Sifat Allah Sesuai Hakikatnya (2)

32

Imam Al Humaidy berkata:

Dan apa yang Al Quran dan Hadits sebutkan semisal:

وقالت اليهود يد الله مغلولة غلت أيديهم

“Dan orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu, padahal tangan mereka yang terbelenggu” 

Dan firman Allah:

والسموات مطويات بيمينه            

“Dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya” 

dan nash yang semisal itu dari Al-Qur’an dan hadits maka kami tidak menambah-nambahnya(1) dan tidak menafsirkannya(2) (secara batil). 

=======================================

 

(1) Perkataan beliau: “Kami tidak menambah-nambahinya”, yaitu kami berhenti pada apa yang disebutkan dalam Al Quran dan hadits. Maka tidak ada tempat bagi akal dalam menetapkan nama-nama dan sifat Allah, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: "Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, dan mengharamkan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan mengharamkan berkata tentang Allah, apa-apa yang tidak kamu ketahui".

Dan firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya.”

Imam Ahmad mengatakan: “Allah tidaklah disifati dengan sesuatu melebihi apa yang Dia sifatkan sendiri untuk diri-Nya”

(2) Perkataan beliau: “dan kami tidak menafsirkannya (dengan penafsiran batil)”, yaitu tidak mempertanyakan bagaimananya, atau menjabarkannya dengan lebih rinci. Karena tidak ada yang mengetahui kaifiyah atau detail dari sifat-sifat Allah kecuali Dia. Firman Allah Ta’ala:

وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ

“Tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah.”

Dan juga Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

“ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu Allah”

Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim mengatakan: “Aku bertanya pada ayahku dan Abu Zur’ah mengenai madzhab Ahlus Sunnah dalam masalah ushuluddin (pokok agama), dan yang beliau berdua dapati dari para ulama di setiap tempat, dan apa yang mereka yakini dalam hal itu, maka mereka menjawab: Kami mendapati ulama di setiap tempat, baik itu Hijaz, Irak, Syam, dan Yaman, maka inilah madzhab mereka… Bahwa Allah berada di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, sebagaimana Dia telah sifatkan diri-Nya sendiri dalam kitab-Nya, dan juga melalui lisan Rasul-Nya, tanpa merinci bagaimana atau caranya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.”

Al Khaththabi mengatakan: Adapun yang engkau tanyakan mengenai sifat-sifat Allah dan keterangan yang ada dalam Al Quran dan Sunnah, maka madzhab salaf dalam hal ini adalah menetapkannya dan membiarkannya menurut makna lahiriyah-nya, dan menolak untuk merinci tentang bagaimana-nya, dan juga menolak untuk menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.

Dan sungguh telah ada suatu kelompok yang menafikkan sifat-sifat Allah, maka dengan itu ia membatalkan apa yang telah Allah tetapkan. Dan kelompok lain ada yang merealisasikannya, yaitu dari kalangan yang menetapkan sifat-sifat Allah, namun mereka melenceng di dalamnya, sampai pada tingkatan menjadikan permisalan bagi Allah, yaitu dengan menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, dan merinci kaifiyah dari sifat Allah.

Dan hanyalah titik pertengahan atau yang adil dalam menapaki jalan yang lurus adalah di antara dua perkara di atas. Dan agama Allah itu berada di antara orang yang ghuluw (berlebihan) dan orang yang meremehkan agama dan mengurang-nguranginya.

Jika kita katakan “tangan”, “pendengaran”, atau “penglihatan”, dan yang semisal itu, maka sesungguhnya itu hanyalah sifat-sifat yang Allah Ta’ala tetapkan untuk diri-Nya. Dan tidaklah kita katakan bahwa makna dari tangan adalah kekuatan dan nikmat. Tidak pula kita katakan makna dari as sam’u dan al basharu adalah ilmu atau pengetahuan-Nya. Tidak pula kita katakan bahwa semua itu adalah anggota badan, dan kita pun tidak boleh menyerupakannya dengan tangan-tangan dan pendengaran-pendengaran, dan penglihatan-penglihatan yang mana semua itu merupakan anggota badan dan alat untuk berbuat.

Dan yang kita katakan adalah, sesungguhnya pendapat yang benar dalam masalah ini adalah: yang wajib hanyalah menetapkan sifat-sifat Allah, sebab, semua sifat Allah itu datang dengan tauqif, atau apa adanya tanpa perincian. Dan wajib untuk menolak segala bentuk penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, karena Allah tidak ada yang serupa dengan-Nya. Dan di atas prinsip inilah, pendapat para salaf dalam menyikapi hadits-hadits tentang sifat Allah.

Syaikhul Islam mengatakan:

"Madzhab salaf -ridhwanullahi ‘alahim- adalah menetapkan sifat-sifat Allah, dan membiarkannya sesuai makna lahiriyahnya dan menolak perincian tentang bagaimana-nya. Karena, perkataan dalam masalah sifat adalah cabang dari perkataan dalam masalah Dzat. Sedangkan penetapan Dzat merupakan penetapan wujud atau eksistensi, bukan penetapan kaifiyah. Begitu pula penetapan sifat-sifat Allah."

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami