Aqidah Ahlus Sunnah Imam Al Humaidy (23) : Menetapkan Sifat-Sifat Allah Sesuai Hakikatnya (3)

24

Imam Al Humaidy mengatakan:

Kami berhenti di mana Al-Qur’an dan As-Sunnah berhenti(1). Kami katakan:

الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى

‘Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy,’ (2)

Dan siapa yang meyakini selain daripada apa yang kami sebutkan di atas, maka dia seorang mu’aththil(3) dan Jahmiyah. (4)

============================================

 

(1) Perkataan beliau: Dan kami berhenti dimana Al Quran dan Sunnah berhenti”, maksudnya adalah, kita tidak boleh menetapkan satu nama saja atau satu sifat saja bagi Allah, yang mana itu tidak disebutkan dalam Al Quran atau sunnah Nabi yang shahih.

Ibnu Abdil Barr mengatakan: Ahlus Sunnah bersepakat untuk menetapkan seluruh sifat-sifat yang terdapat dalam Al Quran dan Sunnah, serta beriman dengannya, dan membawanya ke makna hakiki, bukan makna majaz. Mereka tidak sedikitpun merinci kaifiyahnya, dan tidak pula membatasi di dalamnya dengan sifat yang terbatas.

Adapun Ahli Bid’ah, semisal Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan Khawarij, maka mereka semua mengingkari sifat-sifat Allah. Dan tidak membawa maknanya kepada makna hakiki. Dan mereka mengklaim bahwa siapa yang menetapkan sifat-sifat Allah, maka dia orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Sedangkan mereka sendiri, menurut yang menetapkan sifat bagi Allah, adalah orang-orang yang meniadakan sifat-sifat bagi Al Ma’bud, yaitu Allah. Dan yang benar adalah apa yang disebutkan Al Quran dan Sunnah Nabi-Nya, dan mereka para imam ahlus Sunnah wal Jama’ah.

(2) Perkataan beliau “Dan kami mengatakan: Ar Rahman istiwa di atas ‘Arsy”, yaitu naik dan meninggi. Adapun tafsir istiwa dengan istiqrar (menetap), maka tidaklah terdapat dalam Al Quran dan Sunnah.

Imam Adz Dzahabi mengatakan, setelah menyebutkan perkataan Al Kalbi dan Muqatil mengenai pemaknaan istiwa dengan istiqrar: “Perkataannya bahwa istiwa bermakna istiqra, tidaklah aku sukai. Bahkan aku mengatakan sebagaimana yang dikatakan Malik sang Imam, bahwa makna istiwa itu telah diketahui (yakni, tidak perlu ditakwil dengan makna lain yang bukan makna aslinya).

Syaikhul Islam mengatakan: Imam Malik bin Anas pernah ditanya tentang masalah itu. Ketika itu, penanya bertanya: Allah berfirman“Ar Rahman istiwa di atas ‘Arsy”, maka bagimana caranya dia istiwa?

Maka Imam Malik pun menundukkan kepalanya, sampai keringat beliau mengucur deras, kemudian beliau berkata: Istiwa itu maknanya telah diketahui, sedangkan bagaimana caranya itu tidaklah diketahui. Iman terhadapnya adalah wajib, sedangkan mempertanyakannya adalah bid’ah, dan aku tidaklah memandangmu kecuali bahwa engkau ini seorang mubtadi’. Kemudian beliau memerintahkan untuk mengusir orang ini dan terusirlah.

Dan segenap imam dalam agama seperti Ibnul Majisyun, Al Auza’i, Al Laits bin Sa’d, Hammad bin Zaid, Asy Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal serta selain mereka: Perkataan mereka menunjukkan kepada apa yang ditunjukkan oleh Imam Malik, yaitu bawa pengetahuan tentang kaifiyah sifat-sifat Allah tidaklah ada pada kita. Karena pengetahuan tentang kaifiyah sifat merupakan cabang dari pengetahuan tentang kaifiyah yang disifati. Maka jika Dzat yang disifati itu tidak diketahui kaifiyahnya, maka hal itu akan menghalangi kita dari mengetahui kaifiyah dari sifat Dzat tersebut.”

Al Baghawi mengatakan: Mu’tazilah mentakwilkan istiwa dengan istilaa (berkuasa). Adapun Ahlus Sunnah maka mereka mengatakan: Istiwa di atas Arsy adalah sifat Allah, tanpa diketahui rinciannya, dan wajib untuk mengimaninya.

Dan ketika membahas ayat “Kemudian Dia istiwa ke langit” beliau mengatakan: Ibnu Abbas dan kebanyakan mufassir di kalangan salaf, maknanya adalah naik menuju langit.

(3) Perkataan beliau: Dan siapa yang meyakini selain daripada apa yang kami sebutkan di atas, maka dia seorang mu’aththil”. Mu’aththil adalah orang yang menafikkan sifat-sifat Allah Ta’ala dan juga nama-nama-Nya, baik seluruhnya ataupun sebagiannya. Seperti Jahmiyah yang menafikkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya seluruhnya. Dan seperti Mu’tazilah yang menafkkan sifat-sifat Allah seluruhnya. Dan seperti Asya’irah yang menetapkan hanya tujuh sifat bagi Allah dan menafikkan sisanya.

(4) Perkataan beliau “Jahmiy”, nisbat kepada Jahm bin Shafwan, yang mana ia menafikkan nama-nama dan sifat-sifat Allah seluruhnya.

Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim mengatakan: “Aku bertanya pada ayahku dan Abu Zur’ah mengenai madzhab Ahlus Sunnah dalam masalah ushuluddin (pokok agama), dan yang beliau berdua dapati dari para ulama di setiap tempat, dan apa yang mereka yakini dalam hal itu, maka mereka menjawab: Kami mendapati ulama di setiap tempat, baik itu Hijaz, Irak, Syam, dan Yaman, maka inilah madzhab mereka… Dan bahwa Jahmiyyah adalah orang-orang yang telah kafir”

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami