Aqidah Ahlus Sunnah Imam Al Humaidy (25) : Pelaku Dosa Besar Tidak Kafir

502

Di antara dalil-dalil bahwa pelaku dosa besar tidak kafir adalah:

Firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَىٰ بِالْأُنْثَىٰ ۚ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash terkait dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, budak dengan budak, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah ia mengikuti dengan cara yang baik" (QS Al Baqarah 178)

Di sini Allah tidak mengeluarkan pembunuhnya dari status orang-orang yang beriman, dan Allah tetap menjadikannya saudara bagi wali qishah atau pihak yang terbunuh. Dan tentu maksud saudara di sini adalah persaudaraan dalam agama, tanpa keraguan.

Dan juga firman Allah:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ . إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya. Namun jika yang satu melampaui batas terhadap yang lain, maka perangilah mereka yang berbuat demikian sampai mereka kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah kembali, maka damaikanlah antara keduanya sesuai keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al Hujurat 9-10)

Dan teks-teks Al Quran, Sunnah, dan juga Ijma’ menunjukkan bahwa orang yang berzina, yang mencuri, dan yang menuduh zina, mereka tidaklah dibunuh. Akan tetapi, ditegakkan hukum hadd bagi mereka. Maka hal ini menunjukkan bahwa pelaku dosa-dosa di atas tidaklah murtad.

Dari Imran bin Hushain, dari Nabi bahwasanya beliau bersabda: “Suatu kaum keluar dari neraka dengan syafaat Muhammad, maka kemudian mereka masuk surga. Mereka dinamai dengan Jahannamiyyun”

Dan Abu Sa’id Al Khudri, beliau mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:

“Allah Ta’ala memasukkan penghuni surga ke dalam surga, Dia memasukkan siapa saja yang dikehendaki-Nya dengan rahmat kasih sayang-Nya, dan memasukkan penghuni neraka ke neraka. Kemudian berfirman: Lihatlah, siapa yang kalian temukan di hatinya terdapat iman sebesar biji sawi, maka keluarkanlah dia darinya! Maka mereka dikeluarkan dari neraka dalam keadaan hitam terbakar[1], kemudian mereka dilemparkan ke sungai kehidupan[2] atau hujan. Maka mereka pun tumbuh di dalamnya sebagaimana tumbuhnya benih tanaman di tempat air mengalir. Tidakkah kalian melihat bagaimana biji-biji tersebut tumbuh menguning dan membengkok?”[3]

Imam Ahmad mengatakan: “Dan menahan diri dari ahli kiblat. Engkau tidak mengkafirkan seorangpun dari mereka dengan sebab dosa besar, dan tidak mengeluarkannya dari Islam disebabkan karena suatu amalan, kecuali amalan yang disebutkan dalam hadits[4], yang mana hadits tersebut diriwayatkan sebagaimana datangnya, sebagaimana ia diriwayatkan, dan engkau membenarkannya dan menerimanya, dan engkau mengetahuinya sebagaimana diriwayatkan[5], semisal meninggalkan shalat dan minum khamr[6], dan semisalnya. Atau ketika dia melakukan suatu bid’ah yang mana pelakunya ternisbatkan kepada kekufuran atau keluar dari Islam. Maka ikutilah atsar (jejak para sahabat) dalam hal ini, dan janganlah melampauinya.”

Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi mengatakan: Ahlus Sunnah bersepakat seluruhnya bahwa pelaku dosa besar tidaklah kafir dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama secara keseluruhan, seperti perkataan Khawarij. Karena seandainya ia memang kafir dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama, tentu dia murtad dan dibunuh, apapun keadaannya, dan tidak pula diterima pula ampunan dari wali qishash, dan tdak pula hudud berlaku pada zina, pencurian, dan meminum khamr!

Maka pendapat ini telah diketahui kebatilannya dan juga kerusakannya secara pasti dalam agama Islam. Dan Ahlus Sunnah juga bersepakat bahwa ia tidak keluar dari iman dan Islam, dan tidak masuk dalam kekafiran, dan tidak berhak menyandang kekekalan di neraka bersama orang-orang kafir sebagaimana perkataan Mu’tazilah. Karena pendapat mereka inipun batil, karena Allah telah jadikan pelaku dosa besar masih menjadi bagian kaum mukminin.”

Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim mengatakan: “Aku bertanya pada ayahku dan Abu Zur’ah mengenai madzhab Ahlus Sunnah dalam masalah ushuluddin (pokok agama), dan yang beliau berdua dapati dari para ulama di setiap tempat, dan apa yang mereka yakini dalam hal itu, maka mereka menjawab: Kami mendapati ulama di setiap tempat, baik itu Hijaz, Irak, Syam, dan Yaman, maka inilah madzhab mereka… Dan iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.. Dan bahwa pelaku dosa besar berada dalam kehendak Allah ‘Azza wajalla, dan kita tidak mengkafirkan ahli kiblat disebabkan dosa mereka, dan kami menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah”

Abul Hasan Al Asy’ari mengatakan: “Dan para salaf bersepakat bahwa orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan semua yang diseru oleh Nabi kepada iman, maka tidaklah keluar dari iman dengan sebab suatu maksiat, dan tidaklah iman itu menjadi batal kecuali dengan kekufuran. Dan bahwasanya para pelaku maksiat dari kalangan ahli kiblat yang diperintahkan dengan seluruh syariat, mereka tidaklah keluar dari iman dengan sebab kemaksiatan mereka.”

==================

[1] Imtahasyu: ihtaraqu (terbakar). Al mahsyu maknanya adalah terbakarnya kulit sampai tulangnya terlihat.

[2] Al haya maksudnya adalah hujan. Disebut haya karena bumi hidup dengan sebab adanya hujan. Demikian pula air ini menghidupkan mereka yang terbakar, dan menciptakan kesegaran bagi mereka, sebagaimana hal ini terjadi pula di bumi.

[3] Yaitu membengkok bersama-sama, atau bisa juga: tergulung.

[4] Yaitu hadits yang menyebutkan bahwa suatu amalan termasuk kekafiran.

[5] Maksudnya adalah menerima hadits tersebut apa adanya, dalam rangka mendorong manusia untuk menjauhi larangan yang ada di dalamnya. Semisal hadits:

سِبَابُ المسلم فسوق وقتاله كفْر

“Mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekafiran”

[6] Meninggalkan shalat terdapat nash yang menyebutkan bahwasanya pelakunya kafir.

العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة؛ فمَن تركها فقد كفَر

“Pembeda antara kita dengan mereka (orang kafir) adalah shalat. Maka barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir”

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat mengenai hukum meninggalkan shalat dengan sengaja karena malas, apakah kafir ataukah tidak. Yang disepakati ulama adalah meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya, atau menganggap dirinya tidak wajib shalat.

Adapun minum khamr, maka terdapat riwayat dari sebagian salaf bahwa minum khamr itu dapat membawa kepada kekafiran, disebabkan ketika dia mabuk, maka dia meninggalkan shalat, dan itu adalah kekafiran. Namun hukum minum khamr sendiri disepakati oleh para ulama termasuk dosa besar yang tidak mengkafirkan pelakunya.

Atau bisa juga maknanya adalah barangsiapa yang menghalalkan minum khamr maka dia kafir.

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami