Aqidah Ahlus Sunnah Imam Al Humaidy (24) : Tentang Khawarij

89

Imam Al Humaidy berkata:

Dan kami tidak berpendapat sebagaimana pendapat Khawarij, bahwa siapa yang melakukan dosa besar maka dia kafir.

====================================

Perkataan beliau ini bersambung dari yang sebelumnya, yaitu di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bahwa mereka tidak mengkafirkan pelaku dosa besar. Sesungguhnya yang mereka katakan hanyalah: Pelaku dosa besar adalah mukmin yang imannya kurang, atau, mukmin dengan imannya, dan fasik dengan dosa besarnya.

Dosa besar adalah semua dosa yang Allah Ta’ala tandai atau ancam dengan neraka, atau kemurkaan, atau laknat, atau Allah ancam dengan hukum had di dunia, atau adzab di akhirat.

Khawarij adalah kelompok yang pertama kali mengkafirkan pelaku dosa besar dari kalangan ahli kiblat, dan menghukumi mereka dengan kekekalan di neraka, serta menghalalkan darah mereka, harta mereka, serta wanita mereka. Mereka kelompok yang mencabut baiat mereka dari ketaatan kepada penguasa dari kalangan pemimpin kaum muslimin. Asal mereka adalah para pemberontak khalifah Ali bin Abi Thalib, dan seluruh kaum muslimin bersepakat untuk memerangi kelompok tersebut.

Dan penyebutan tentang mereka terdapat dalam hadits Abu Sa’id Al Khudry, beliau menceritakan:

“Kami bersama Rasulullah ketika beliau sedang membagi-bagi harta rampasan perang. Dzul Khuwaishirah mendatangi beliau, dan dia adalah seorang laki-laki dari Bani Tamim. Dia mengatakan: “Wahai Rasulullah, berbuat adil lah!”

Maka Rasulullah menjawab, “Celakalah engkau, siapakah yang akan adil seandainya aku tidak adil?” Engkau telah kecewa dan rugi[1] jika aku tidak berbuat adil!

Maka Umar berkata: “Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal lehernya!”

Beliau menjawab: “Biarkanlah dia. Karena dia mempunyai sahabat-sahabat yang mana, salah seorang dari kalian akan meremehkan shalatnya dibandingkan shalat mereka, dan juga puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Quran namun tidak melewati pangkal leher mereka[2], mereka melesat keluar dari agama[3], sebagaimana keluarnya anak panah dari hewan buruannya.[4]

Dilihat ke mata panahnya[5], maka tidak ditemukan apa-apa di situ. Kemudian dilihat ke pengikat mata panahnya[6], tidak ada apa-apa di situ, kemudian dilihat ke batang anak panahnya[7], tidak pula ada sesuatu di situ. Kemudian dilihat ke bulu panahnya[8], tak ditemukan apapun di situ. Padahal anak panah itu telah melewati isi perut binatang dan darahnya.[9]

Ciri mereka, seorang laki-laki hitam, salah satu pangkal lengannya seperti payudara wanita, atau daging yang berguncang[10]. Mereka keluar saat manusia berpecah belah.”

Abu Sa’id mengatakan: Aku bersaksi bahwa aku mendengar hadits ini dari Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa Ali bin Abi Thalib memerangi mereka dan aku bersamanya, maka ia memerintahkan agar laki-laki tersebut dicari dan dibawa kepadanya, sehingga aku pun melihatnya memiliki ciri-ciri sebagaimana yang disifatkan Nabi.”

Dan dari Abu Sa’id, beliau mengatakan: “Suatu ketika ‘Ali bin Abi Thalib mengirimkan potongan emas kepada Nabi, maka beliau pun membagi-bagikannya kepada empat: Al Aqra bin Habis Al Hanzhali, kemudian Al Mujasyi’i, lalu ‘Uyainah bin Badr Al Fazari, dan Zaid Ath Tha-i, kemudian seorang dari Bani Nabhan, kemudian Alqamah bin ‘Ulatsah Al ‘Amiri, kemudian seorang dari Bani Kilab. Maka marahlah orang-orang Quraisy, dan juga kaum Anshar. Mereka mengatakan: Rasulullah memberi kepada para shanadid[11] penduduk Najd, dan membiarkan kita”. Maka beliau menjawab: “Sesungguhnya aku hanyalah bermaksud melunakkan hati mereka.”

Maka datanglah seorang laki-laki yang matanya cekung[12], kedua tulang pipinya menonjol[13], dan jidatnya maju, jenggotnya lebat, dan kepalanya gundul, berkata: “Bertakwalah kepada Allah wahai Muhammad!”

Beliau menjawab: “Siapa yang akan taat kepada Allah kalau aku bermaksiat kepada-Nya? Apakah Allah tidak mempercayakanku untuk penduduk bumi, sehingga kalian tidak mempercayaiku?”

Maka seorang laki-laki meminta izin untuk membunuh orang tersebut, -aku kira (yaitu Abu Sa’id) laki-laki tersebut adalah Khalid bin Walid-, akan tetapi beliau mencegahnya.

Setelah orang itu berlalu, beliau bersabda: Sungguh dari keturunan[14] orang ini, atau dari anak cucu orang ini, akan muncul suatu kaum yang membaca Al Quran tanpa melewati pangkal tenggorokan, atau kerongkongannya[15], mereka keluar[16] dari agama seperti keluarnya anak panah menembus binatang buruannya[17]. Merekamembunuh orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Seandainya aku mendapati mereka, aku benar-benar akan membinasakan mereka seperti binasanya kaum ‘Ad.[18]

=====

[1] Maksudnya adalah: Engkau termasuk golongan orang yang kecewa dan rugi ketika engkau mengira aku tidak adil, karena engkau meyakini dirimu sebagai pengikut dari yang memiliki sifat seperti itu.

[2] Maksudnya tidak melebihinya. Makna at taraqiy, jamak dari tarquwah, yaitu tulang (‘azhmun) yang menghubungkan antara celah leher bagian bawah (tsughratin nahri) dengan bahu (‘atiq). Maksudnya adalah, mereka tidak memahami maknanya. Dan hati mereka tidak menjadi khusyu’ dengannya, dan tidak pula membekas dalam jiwa mereka, maka dengan itu mereka tidak mengamalkan apa yang dituntut dari Al Quran.

[3] Yaitu keluar dengan cepat tanpa mengambil manfaat apa-apa darinya.

[4] Artinya, ia telah menembus hewan buruan tersebut sampai keluar lagi darinya. Sebagian orang menerjemahkannya dengan busur, dan hal ini tidak tepat. Yang benar, makna ramiyyah adalah target dari perbuatan ar ramyu atau melempar, dalam hal ini adalah binatang buruan, -pent.

[5] Nashlihi: Bagian besi dari anak panah, yaitu di ujungnya.

[6] Rishafihi: tali atau urat yang diikat melingkar di tempat masuknya nashl untuk mengencangkannya.

[7] Qid-huhu: Bagian kayu dari anak panah sebelum diletakkan padanya bulu unggas.

[8] Qudzadzihi: Jamak dari qudzdzah, yaitu sepotong bulu unggas yang diikatkan ke anak panah (sebagai ekor panah).

[9] Yaitu, tidak tersangkut padanya sesuatupun dari isi perut dan darahnya itu, karena amat cepatnya dia melesat. Al fartsu maknanya adalah apa yang terkumpul di perut dari apa yang dimakan oleh semua makhluk yang mempunyai perut.

[10] Tadardara: berguncang, datang dan pergi.

[11] Shanadid: para pemimpin/pemuka. Jamak dari Shindid.

[12] Yaitu, kedua bola matanya mengarah ke dalam wajahnya, dan menempel ke bawah pupil-nya. Kebalikan dari melotot.

[13] Musyriful wajnatain: ‘aliyahuma (bagian atas dari keduanya), yaitu dari wajnatain, yakni, sepasang tulang yang menonjol di atas dua pipi. Menurut pendapat lain: ia adalah daging kulit yang ada di pipi.

[14] Dhi’dhi’, maksudnya adalah keturunan, atau anak-cucu. Menurut pendapat lain: keturunan yang banyak.

[15] Maknanya, tidak memahami maknanya, dan tidak mengambil manfaat dari melantunkannya.

[16] Keluar darinya seperti keluarnya anak panah ketika menembus binatang buruan dari sisi yang lain. Tidak ada darah yang menempel di anak panah tersebut sedikitpun.

[17] Ar ramiyyah: Binatang yang diburu.

[18] Yaitu, mencabut mereka sampai akar-akarnya secara keseluruhan, dari semua sisi. Dan tidak menyisakan seorangpun dari mereka.

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami