Aqidah Ahlus Sunnah Imam Al Humaidy (26) : Pelaku Dosa Besar Tidak Kafir (2)

53

Imam Al Humaidy berkata: “Kami tidak mengkafirkan seseorang karena melakukan dosa-dosa besar”.

==================================

Di antara pokok aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bahwa para pelaku dosa besar tidaklah kafir dengan suatu dosa, kecuali jika itu adalah perbuatan kufur atau penghalalan terhadap maksiat. Jika seseorang menghalalkannya, maka dia telah kafir walaupun baru sebatas keyakinannya dalam menghalalkan apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan dan dia sendiri belum melakukannya. Karena saat itu juga dia telah mendustakan Al Quran dan mendustakan Rasul, dan hal ini merupakan kekufuran terhadap Al Quran, Sunnah, dan Ijma’.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An Nisa 48)

Dan dalil tentang fasiknya pelaku dosa besar dan berkurangnya iman darinya adalah firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ .

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيم

Dan orang-orang yang menuduh zina wanita-wanita yang menjaga dirinya dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka cambuklah mereka delapan puluh kali cambukan, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.

Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An Nuur 4-5)

Dari Abu Hurairah, beliau berkata: Rasulullah bersabda: “Tidaklah berzina seorang pezina, ketika dia berzina sedangkan dia beriman. Dan tidaklah seseorang akan mencuri, ketika mencuri itu dia dalam keadaan beriman. Dan tidak pula seseorang mimum khamr, dia minum khamr dalam keadaan dirinya beriman. Dan pintu taubat terbuka bagi mereka setelahnya”

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami