Tidak Ada yang Istimewa di Rumah Ini

87

Tidak ada yang Istimewa di Rumah Ini

Umumnya orang yang memiliki jabatan tinggi, ingin dirinya mendapatkan tempat dan perlakuan yang khusus. Tempat duduk yang khusus, pengawal yang khusus, minuman khusus, kamar khusus, semuanya serba khusus. Inilah umumnya orang-orang besar yang memiliki jabatan. Berbeda halnya dengan orang yang tidak memiliki apa-apa. Tidak ada perlakuan khusus sama sekali. Oleh karenanya, begitu istimewa ketika ada seorang pejabat yang lebih memilih mendapat perlakuan biasa saja meskipun sah-sah saja bila mereka mendapatkan perlakuan yang istimewa.

Pada saat musim haji tiba, khalifah kaum muslimin saat itu yakni Sulaiman bin Abdul Malik menunaikan ibadah haji bersama kedua putranya, sebagaimana tradisi pendahulunya, apabila seorang khalifah menunaikan ibadah haji, maka ia akan meminta pengawalnya untuk mencari ulama sebagai tempat konsultasi mengenai manasik haji. Maka pada saat itu didapati ada seorang ulama besar yaitu Atha bin Abi Rabah yang sedang berdiri melaksanakan shalat sunnah. Melihat hal tersebut, maka sang khalifah menuju tempat shalat Atha. Di sekitarnya sudah penuh dengan manusia yang duduk menunggu sang ulama selesai shalat. Tujuan mereka sama, yaitu berkonsultasi mengenai manasik haji. Begitu pun tujuan sang khalifah. Maka mulai para pengawal berinisiatif untuk menyibak kerumunan tersebut agar khalifah bisa mendapatkan tempat prioritas di sisi sang ulama. Melihat hal itu Sulaiman mengatakan kepada pengawalnya, “Jangan kalian lakukan itu. Ini adalah tempat yang tidak membedakan antara raja dan rakyat jelara. Tidak ada yang lebih utama antara yang satu dengan yang lainnya sedikitpun melainkan karena amal dan takwanya. Boleh jadi seorang yang kusut dan berdebu Allah terima ibadahnya sedangkan Allah tolak ibadah para raja.” Maka pengawalpun mengehentikan kegiatan tersebut dan ikut duduk menunggu Atha menyelesaikan shalatnya besama khalifah. (Mereka adalah Para Tabi’in hal 16)

Beginilah potret kesederhanaan dan rendah hatinya sang khalifah. Seorang khalifah kaum muslimin yang memiliki kekuasaan yang besar, namun ketika berhadapan dengan seorang ahli ilmu ditambah ia sadar bahwa ia berada di tanah suci, maka ia lebih memilih mengalahkan ego nya dan kesombongannya sebagai seorang raja demi menghormati Allah dan para ulama. Apabila ini adalah potret sang khalifah kaum muslimin di rumah Allah dan di hadapan ulama, maka kita seharusnya lebih merendah dari beliau. Namun, anehnya sebagian dari kita tidak memiliki rasa hormat kepada rumah Allah dan juga para ulama. Tidak terasa sebagian dari kita melecehkan rumah Allah dengan membuat acara-acara yang bernilai maksiat. Begitupun tidak sedikit dari kita yang melecehkan para ulama dengan mengolok-olok mereka, menjelek-jelekkan mereka, dll. 

Penulis : Seno Aji Imanulloh

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami