Berbeda Namun Tak Saling Mencela

194

Allah Ta'ala menciptakan manusia dengan berbagai macam perbedaan, termasuk berbeda pendapat. Akan tetapi perbedaan pendapat (khilafiyah) yang teranggap dalam Islam hanyalah yang terjadi di antara para ulama atau pakar. Maka perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan orang awam tidak termasuk dalam pembahasan. Sehingga yang dimaksud dalam pembicaraan di sini adalah khilafiyah di kalangan ulama.

Mungkin sebagian orang mengira bahwa khilafiyah hanya ada dalam masalah fiqih, padahal hal itu juga ada dalam masalah aqidah. Contohnya: apakah mayit mendengar suara orang hidup, apakah ada adzab bagi penghuni kubur karena tangisan orang yang masih hidup, atau mengenai apakah Rasulullah melihat Allah di dunia di malam Mi'raj. Semua perbedaan pendapat yang teranggap dalam aqidah adalah hanya dalam masalah furu' (cabang) dan bukan ushul (pokok).

Selain itu perbedaan pendapat juga ada dalam masalah tafsir, qiroat, ilmu bahasa arab, ilmu hadits, ushul fiqih, dan lain-lain.

Oleh karena itu,, untuk mengetahui bagaimana seharusnya bersikap, maka kita harus mengetahui jenis-jenis khilafiyah:

1. Khilafiyah Tanawwu', yaitu perbedaan yang sifatnya variatif. Misalnya: Macam-macam doa iftitah, bacaan tasyahhud, qiraat Al Quran yang tujuh, dan lain sebagainya.

Karakteristik dari khilaf jenis ini adalah:

- Semua pendapat benar

- Bebas memilih dan berganti-ganti antara satu pendapat dengan lainnya. Misal, suatu waktu iftitah dengan "Allahumma ba'id..", suatu waktu dengan "Wajjahtu wajhiya.." 

2. Khilafiyah Tadhad saigh (mu'tabar), yaitu perbedaan yang sifatnya saling bertentangan namun masih dalam koridor ijtihadiyah, artinya, terdapat ruang bagi para ulama untuk berijtihad dan berbeda pendapat.

Misal:
- halal atau haramnya sesuatu
- wajib atau tidak wajib sesuatu
- masyru' (disyariatkan) atau tidaknya sesuatu,
- mana yang lebih utama antara dua hal
- atau perbedaan terkait sebagian tata cara ibadah.

Penyebab adanya khilaf semacam ini:
- Ketika tidak ada teks dalil yang menjelaskan suatu perkara secara langsung
- Ada teks dalil tapi tidak sharih/tegas (bisa ditafsirkan lebih dari satu penafsiran).
- Ada teks dalil yang sharih/tegas, tapi beda penilaian validitas (kesahihan) dalil.
- Terdapat teks dalil yang sharih/tegas, tapi ada dalil lain yang secara lahiriyah bertentangan dengannya.

Atas sebab-sebab inilah kemudian para ulama berijtihad menentukan hukum, dan mereka menjadi berbeda pendapat dalam suatu masalah.

Karakteristik dari khilafiyah jenis ini:

- Hanya ada satu pendapat yang benar

- Setiap orang hanya bisa memilih salah satu pendapat dan tidak mungkin untuk menganut dua pendapat sekaligus. Misal berpendapat bahwa sesuatu itu haram sekaligus halal, masyru' sekaligus tidak masyru', dan sebagainya.

Contohnya:
- Turun sujud mendahulukan lutut atau tangan, mana yang lebih afdhal.
- Duduk di rakaat terakhir shalat dua rakaat, apakah tawarruk atau iftirasy
- Shalat qabliyah Jumat , antara yang menganggap masyru' dengan yang tidak.
- I'tidal setelah ruku' apakah bersedekap atau tidak.
- Hukum memakai penutup muka (cadar) bagi wanita, antara wajib dan mustahab (sunnah).
- Hukum memakan daging buaya, antara yang menghalalkan dan yang mengharamkan.
- Qunut subuh antara yang menganggap masyru' dengan yang menganggap tidak masyru'.
- Isbal tanpa sombong apakah haram atau tidak. 
- Hukum menggunakan hak suara dalam pemilu pada kondisi yg mengharuskannya.

Untuk dua jenis khilafiyah di atas, yang sama-sama khilaf saigh, yaitu yang dibolehkan untuk berijtihad di dalamnya, maka tidak boleh mengingkari pendapat yang berlawanan sebagaimana mengingkari kemungkaran. Karena nahi munkar hanya untuk perkara yang disepakati (mujma' 'alaih).

Pada perbedaan semisal ini, maka setiap orang dihukumi sesuai apa yang dia sendiri yakini, dan tidak keyakinan orang lain tidak membatalkannya. Sehingga shalat berjamaah antara yg beda madzhab, tidaklah masalah.

Ibnu Taimiyyah mengatakan:

وقد كان الصحابة والتابعون ومن بعدهم : منهم من يقرأ البسملة ومنهم من لا يقرؤها  ومنهم من يجهر بها ومنهم من لا يجهر بها  وكان منهم من يقنت في الفجر ومنهم من لا يقنت ومنهم من يتوضأ من الحجامة والرعاف والقيء ومنهم من لا يتوضأ من ذلك ومنهم من يتوضأ من مس الذكر ومس النساء بشهوة ومنهم من لا يتوضأ من ذلك  ومنهم من يتوضأ من القهقهة في صلاته ومنهم من لا يتوضأ من ذلك .  ومنهم من يتوضأ من أكل لحم الإبل ومنهم من لا يتوضأ من ذلك

ومع هذا فكان بعضهم يصلي خلف بعض : مثل ما كان أبو حنيفة وأصحابه والشافعي وغيرهم يصلون خلف أئمة أهل المدينة من المالكية وإن كانوا لا يقرءون البسملة لا سرا ولا جهرا وصلى أبو يوسف خلف الرشيد وقد احتجم وأفتاه مالك بأنه لا يتوضأ فصلى خلفه أبو يوسف ولم يعد

Di antara para sahabat, tabi'in, dan orang-orang setelah mereka, ada shalatnya yang membaca basmalah dan ada yang tidak... ada yang mengeraskan basmalah dan ada yang tidak.. ada yang melakukan qunut subuh dan ada yang tidak.. ada yang berwudhu karena berbekam, mimisan dan muntah, dan ada yang tidak.. ada yang berwudhu karena menyentuh kemaluan dan wanita dengan syahwat, dan ada yang tidak.. ada yang menganggap batal wudhu karena tertawa dalam shalat, dan ada yang tidak.. ada yang berwudhu karena makan daging unta, dan ada yang tidak..

Akan tetapi, bersamaan dengan itu, mereka tetaplah shalat bersama-sama. Semisal Imam Abu Hanifah dan pengikut beliau, serta Imam Syafi'i dan selainnya, mereka shalat di belakang para ulama Madinah dari kalangan madzhab Maliki yang tidak membaca basmalah baik itu pelan maupun keras. Abu Yusuf pun shalat di belakang Ar Rosyid yang berbekam, yang mana Imam Malik berfatwa bahwa hal itu tidak membatalkan wudhu, dan beliau tidak mengulangi shalatnya.

Sikap lainnya terkait khilaf jenis ini (saigh) :
- Tidak boleh melarang orang lain berpendapat berbeda
- Tidak mencela orang yang berbeda pendapat. 
- Tidak boleh mengingkari seperti orang yang mengingkari kemungkaran

Orang yang berbeda dengan kita pada dasarnya sepakat dengan kita: Yaitu sepakat untuk mengikuti pendapat yang paling kuat dalil-nya. Jadi tidak perlu ribut dalam masalah-masalah ijtihadiyah.

3. Khilafiyah ghairu saigh (Tidak mu'tabar), yaitu perbedaan pendapat yang sifatnya bertentangan, namun menyelisihi teks dalil yang sharih/tegas sehingga tidak bisa ditoleransi. Khilaf jenis ini ada karena menyelisihi nash sharih, ijma' atau qiyas jali.

Contoh:
- Pendapat bolehnya wanita nikah tanpa wali
- Pendapat bolehnya memainkan semua jenis alat musik
- Pendapat bolehnya kembali ke suami pertama pada kasus talak tiga, cukup dengan nikah tanpa hubungan badan.
- Pendapat bolehnya riba fadhl
- Pendapat bolehnya nikah mut'ah
- Pendapat tidak bolehnya mengusap khuf
- Pendapat bolehnya memberontak ke penguasa muslim
- Dan semua pendapat yang bertentangan dengan aqidah ahlus sunnah, dengan ijma'.

Dengan mengetahui macam-macam perbedaan pendapat ini, semoga kita bisa bijak dalam bersikap. Wallahu a'lam bish shawab.

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami