Imam dan Makmum Berbeda Cara Witir

1001

Seseorang shalat tarawih di belakang imam. Ketika tiba waktu shalat witir ia berniat dua rakaat salam kemudian lanjut satu rakaat. Akan tetapi ternyata imam shalat witir dengan tiga rakaat sekaligus. Apa yang harus dilakukan makmum?

Jawab:

Pertama, bahwasanya witir yang dilakukan dengan terpisah lebih baik daripada dilakukan sekaligus, hal itu karena dengan dipisah maka amalan yang dilakukan lebih banyak.

Imam An Nawawi mengatakan:

وإذا أراد الإتيان بثلاث ركعات ففي الأفضل أوجه ( الصحيح ) أن الأفضل أن يصليها مفصولة بسلامين لكثرة الأحاديث الصحيحة فيه ، ولكثرة العبادات فإنه تتجدد النية ودعاء التوجه والدعاء في آخر الصلاة والسلام وغير ذلك

"Jika seseorang melakukan witir tiga rakaat maka yang lebih utama adalah melakukannya terpisah dengan dua salam, disebabkan banyaknya hadits shahih tentang hal itu, dan banyaknya ibadah yang dilakukan karena adanya niat yang baru, doa iftitah, doa di akhir shalat, salam, dan sebagainya."

(Al Majmu')

Kedua, jika kasusnya seperti di atas, maka makmum ketika tahu bahwa imam ternyata melanjutkan ke rakaat ketiga, ia mengubah niatnya dari dua rakaat menjadi tiga rakaat. Dan hal ini dibolehkan.

Disebutkan dalam Syarh Mukhtashar Khalil oleh Al Kharsyi:

وَأَمَّا مَنْ صَلَّى خَلْفَ مَنْ لَا يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا ، كَمَذْهَبِ الْحَنَفِيِّ : فَإِنَّهُ لَا يُطْلَبُ مِنْهُ انْفِصَالُهُ بِسَلَامٍ؛ بَلْ يَتْبَعُهُ

"Adapun jika ia shalat di belakang orang yang tidak memisahkan witir seperti di madzhab Hanafi, maka ia tidak harus tetap memisah dengan salam, akan tetapi ia ikut imam."

Ketiga, bahwasanya makmum boleh meniatkan witirnya dengan niat yang mutlak (tanpa meniatkan jumlah rakaat) dan menggantungkannya pada niat imam. Maka jika imam memisahkan shalatnya, ia ikut. Begitu pula jika imam menggabungnya, ia pun ikut.

Disebutkan dalam Hasyiyah Asy Syarwani mengenai orang yang berniat witir tanpa meniatkan jumlah rakaatnya:

والظاهر أنه يصح ، ويحمل على ما يريد من ركعة إلى إحدى عشرة وترا

"Yang lebih kuat, bahwasanya hal itu boleh. Maka ia bisa meniatkannya mulai dari satu rakaat witir sampai dengan sebelas"

Syaikh Ibnu 'Utsaimin berkata:

ولو قال حينما رأى إماماً يصلي بالناس في مكان يجمع بين مسافرين ومقيمين: إن أتمّ إمامي أتممت ، وإن قصر قصرت : صح ، وإن كان معلقاً...؛... .

وليس هذا من باب الشك، وإنما هو من باب تعليق الفعل بأسبابه، وسبب الإِتمام هنا إتمام الإِمام ، والقصر هو الأصل

"Ketika seseorang melihat ada orang yang mengimami jamaah di tempat yang di situ boleh jadi ada orang-orang mukim dan juga para musafir, maka jika ia katakan: "Aku akan shalat empat rakaat jika imamku shalat sempurna, dan aku akan shalat dua rakaat jika imamku meng-qashar", maka yang seperti ini sah meskipun dia menggantungkan niatnya.

Dan ini bukanlah termasuk keragu-raguan dalam niat, akan tetapi ia masuk dalam bab menggatungkan perbuatan dengan sebabnya. Maka sebab dari dia shalat empat rakaat adalah karena imamnya menyempurnakan shalat. Dan qashar itu adalah hukum asalnya."

(Asy Syarhul Mumti')

Maka dengan ini, boleh bagi makmum untuk berniat witir tanpa meniatkan bilangannya, dan hanya mengikuti imam. Wallahu a'lam.

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami