Mengaminkan Qunut Witir

994

Di Masjidil Haram dan Nabawi, serta di sebagian tempat di tanah air, kita dapati ketika melaksanakan shalat witir, imam membaca doa qunut setelah ruku' di rakaat terakhir. Bagaimana hukumnya, dan seperti apa ketentuannya?

Pertama, bahwa qunut dalam witir hukumnya adalah sunnah, karena Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam melakukannya. Dari Ubay bin Ka'ab, beliau mengatakan:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يوتر فيقنت قبل الركوع

"Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- melakukan witir dan qunut sebelum ruku'" (HR Ibnu Majah)

Akan tetapi terdapat pula riwayat yang mengatakan bahwa Nabi melakukannya setelah ruku', berdasarkan riwayat 'Urwah ibnuz Zubair yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih beliau.

Sehingga dalam masalah ini perkaranya longgar, apakah dilakukan sebelum ruku' ataukah setelahnya sebagaimana umum di masyarakat.

Kedua, doa yang dibaca pada qunut adalah yang umum dibaca, yaitu:

اللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ ؛ إِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ ، وَ إِنَّهُ لاَ يُذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

"Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana Engkau berikan petunjuk kepada selainku, selamatkan aku sebagaimana Engkau selamatkan selainku, kasihilah aku sebagaimana Engkau kasihi selainku, berilah keberkahan padaku atas semua pemberian-Mu, lindungilah aku dari kejelekan takdir-Mu, sesungguhnya Engkau mentakdirkan dan tidak ditakdirkan, dan sesungguhnya orang yang Engkau kasihi tidak akan hina, dan orang yang Engkau musuhi tidak akan mulia. Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau, wahai Rabb kami"

Lafazh ini adalah jika qunut sendirian. Adapun untuk berjamaah, maka imam mengganti kata ganti "nii" menjadi "naa", dari Allahummahdinii, menjadi Allahummahdinaa.. dan seterusnya.

Ketiga, perlu diperhatikan bahwa tidak semua bagian dalam doa qunut di atas di-amin-kan. Untuk bagian berikut:

إِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ ، وَ إِنَّهُ لاَ يُذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

"Sesungguhnya Engkau mentakdirkan dan tidak ditakdirkan, dan sesungguhnya orang yang Engkau kasihi tidak akan hina, dan orang yang Engkau musuhi tidak akan mulia. Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau, wahai Rabb kami"

Maka tidak boleh meng-amin-kannya, karena hal tersebut bukan doa, melainkan pernyataan yang bersifat pasti mengenai sifat-sifat Allah. Sehingga jika orang mengucapkan "aamiin", maka dia sesungguhnya dia sedang mendoakan Allah Ta'ala, padahal Allah tidak membutuhkannya. Karena makna dari aamiin adalah:

اللهم استجب

"Ya Allah kabulkanlah"

Dan bahwasanya Rasulullah pernah bersabda:

لا تقولوا: السلام على الله؛ فإن الله هو السلام

"Janganlah kalian katakan: Assalamu 'alallah (Semoga keselamatan bagi Allah), karena sesungguhnya Allah adalah As Salaam"

Maka mengaminkan doa qunut hanya di bagian yang memang berupa doa atau permintaan, sedangkan ketika memuji Allah Ta'ala dengan sifat-sifat yang memang layak ada pada diri-Nya, maka tidak disyariatkan untuk mengaminkan.

Wallahu a'lam.

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami