Tata Cara Shalat Jenazah

64

Saat kita mengunjungi Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, hampir tiap kali selesai shalat fardhu, selalu saja ada seruan untuk menyolatkan jenazah.

Mengingat hal tersebut, Batik Travel merasa perlu untuk menyajikan informasi seputar tata cara shalat jenazah berikut ini.

Dalam kitab Al Iqna’, dijelaskan bahwa rukun dalam shalat jenazah ada tujuh.

  1. Berniat (dalam hati)

  2. Berdiri bagi yang mampu

  3. Melakukan empat kali takbir (tanpa ruku’ dan sujud)

  4. Setelah takbir pertama, membaca Surat Al Fatihah

  5. Setelah takbir kedua, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

    Bacaan yang dibaca boleh disesuaikan dengan bacaan ketika shalawat saat duduk tasyahud.

    Dari Ka’ab bin Ujrah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan shalawat,

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد

    Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala aali muhammad, kamaa shallaita ‘ala ibrahim wa ‘ala aali ibrahim innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ‘ala muhammad wa ‘ala aali muhammad, kamaa baarakta ‘ala ibrahim wa ‘ala aali ibrahim innaka hamiidum majiid.
    (HR. Bukhari dan Muslim)

    Bacaan shalawat sendiri ada banyak versi. Yang paling minimalnya adalah dengan membaca “Allahumma Shalli ‘ala Muhammad”

  6. Setelah takbir ketiga, membaca doa untuk mayyit. (Nah, disinilah jama’ah sekalian perlu ada perhatian terkait kata ganti orang / dhommir, yang didoakan)

     Diantara yang bisa dibaca pada do’a setelah takbir ketiga:

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ

    Allahummaghfirla-hu warham-hu wa ‘aafi-hi wa’fu ‘an-hu wa akrim nuzula-hu, wa wassi’ madkhola-hu, waghsil-hu bil maa-i wats tsalji wal barod wa naqqi-hi minal khothoyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danaas, wa abdil-hu daaron khoirom min daari-hi, wa ahlan khoirom min ahli-hi, wa zawjan khoirom min zawji-hi, wa ad-khilkul jannata, wa a’idz-hu min ‘adzabil qobri wa ‘adzabin naar.

    “Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim no. 963)

     

    Doa diatas adalah untuk seorang mayyit laki-laki. Adapun jika mayyit adalah perempuan maka kata ganti –hu dan –hi pada doa tersebut diganti dengan –haa.

    Apabila mayyit yang meninggal laki-laki dalam jumlah banyak, maka memakai kata ganti –hum. Sedangkan jika yang meninggal perempuan dalam jumlah banyak, maka memakai kata ganti –hunna.

     

    Jika yang meninggal adalah anak-anak, maka kita dianjurkan membaca doa sebagai berikut :

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا

    Allahummaj’alhu lanaa farothon wa salafan wa ajron

    “Ya Allah! Jadikan kematian anak ini sebagai simpanan pahala dan amal baik serta pahala buat kami”. (HR. Bukhari secara mu’allaq -tanpa sanad- dalam Kitab Al-Janaiz)

  7. Setelah takbir keempat, salam.

    Adapun untuk bacaan takbir keempat ini, ulama berbeda pendapat terkait dengan apakah hanya berdiam sejenak ataukah berdoa setelah takbir keempat ini. Pendapat dalam Madzhab Syafi’iyah (lihat Ahkamul Janaiz) menyatakan bahwa disunnahkan  untuk membaca doa setelah takbir keempat ini. Adapun pendapat lainnya menyatakan bahwa tidak disyariatkan membaca apa-apa karena tidak ada dalil yang shahih dalam permasalahan ini.

    Kemudian untuk salam, ada yang berpendapat bahwa salam saat shalat jenazah sekali saja ke kanan. Hal inilah yang sering kita jumpai di Masjid Nabawi ataupun Masjidil Haram. Hal inilah yang disampaikan oleh Syaikh Albani sembari mencantumkan hadits dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Nabi shalat jenazah dengan empat kali takbir dan satu kali salam. (Lihat Ahkamul Janaiz)

    Akan tetapi, Syaikh Utsaimin dalam Syarhul Mumti’  menerangkan, “Pendapat yang benar, tidak masalah jika salam dua kali, karena hal ini pula tertera dalam sebagian hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam."


    Allahu ta’ala A’lam.

 

Semoga Bermanfaat. Baarakallahu fiikum.

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami