KEUTAMAAN MEMPERSIAPKAN HAJI DAN UMRAH

135

KEUTAMAAN HAJI / UMRAH DAN PERSIAPANNYA
—————————-

Ibadah haji dan umrah memiliki kutamaan yang agung dan pahala yang sangat besar.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, dari Ibnu Mas’ud secara marfu’ :

تَابِعُوا بين الحجِّ والعمرةِ ، فإنَّهما ينفيانِ الفقرَ والذنوبَ ، كما يَنفي الكيرُ خَبَثَ الحديدِ والذهبِ والفضةِ ، وليس للحجةِ المبرورةِ ثوابٌ إلا الجنةُ

“Ulangilah antara haji ke haji berikutnya dan umrah ke umrah berikutnya, karena diantara keduanya, akan menghilangkan kefakiran dan dosa, sebagaimana menghilangkan karat pada besi, emas dan perak. Dan tidaklah balasan pahala haji yang mabrur, adalah surga” ( HR Tirmidzi, hasan shohih ).

Dalam riwayat Bukhori, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya kepada nabi shalallahu ‘alaihi wasallam :

يا رسولَ اللهِ، نرى الجهادَ أفضلَ العملِ، أفلا نجاهِدُ ؟ قال : لا، لكنَّ أفضلَ الجهادِ حجٌّ مبرورٌ

“Wahai Rasulullah, kami berpandangan bahwa Jihad adalah amalan yang paling utama, apakah kami juga harus berjihad ? Nabi menjawab : “Tidak, Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”.

Dan haji yang mabrur adalah yang tidak bercampur ibadah tersebut dengan dosa-dosa, dilaksanakan hukum-hukumnya secara sempurna. Dan dikatakan : haji yang diterima.

Salah satu usaha untuk mendapatkan ibadah umrah yang mabrur, adalah mencari dan MEMILIH TRAVEL UMRAH yang membantu kelancarannya dalam perjalanan, membantu dalam pelaksanaan berbagai kegiatan ibadah umrah, yang membenarkan bila ada kesalahan dan mengingatkan bila ada yang terlupa.

Ia juga wajib untuk mencari ridho Allah dalam beribadah, berlemah lembut dan berakhlak yang baik. Ia wajib menghindari pertengkaran, berombongan hingga menyempitkan jalan orang lain, menjaga lisan dari caci maki, mencela, ghibah dan apa-apa yang tidak mendatangkan ridho Allah.

من حج لله فلم يرفث و لم يفسق رجع كيوم ولدته أمه

Barangsiapa berhaji karena Allah, dan ia tidak berkata-kata rofats (kotor/porno), tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya. ( HR Bukhari ).

Dan mendapatkan ridho Allah, inilah pemberian dan nikmat yang paling besar. Ridho Allah lebih besar daripada segala nikmat, lebih besar daripada surga dan kenikmatan-kenikmatan surga.

{وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ} [التوبة : 72]

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. ( QS At Taubah 72 ).

Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إنَّ اللهَ تبارك وتعالَى يقولُ لأهلِ الجنَّةِ : يا أهلَ الجنَّةِ ؟ فيقولون : لبَّيْك ربَّنا وسعدَيْك ، فيقولُ : هل رضيتم ؟ فيقولون : وما لنا لا نرضَى وقد أعطيتَنا ما لم تُعطِ أحدًا من خلقِك ، فيقولُ : أنا أُعطيكم أفضلَ من ذلك ، قالوا : يا ربِّ ، وأيُّ شيءٍ أفضلُ من ذلك ؟ فيقولُ : أُحِلُّ عليكم رضواني ، فلا أسخَطُ عليكم بعده أبدا

Allah Tabaraka wata'ala berfirman kepada penghuni surga; 'Wahai penghuni surga! ' 'Baik, dan kami penuhi panggilan-Mu, ' Jawab penghuni surga. Allah berfirman; 'telah puaskah kalian? ' mereka menjawab; 'Bagaimana mungkin kami tidak puas, sementara Engkau telah memberi kami yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu.' Maka Allah berrfirman; 'Sekarang Aku beri kalian suatu yang lebih utama daripada itu.' Penghuni surga bertanya; 'Wahai rabbi, apa yang lebih utama dari kesemuanya? ' Allah berfirman; 'Kuhalalkan keridhaan-Ku untuk kalian, dan Aku tidak murka kepada kalian selama-lamanya.' ( HR Bukhari ).

Demikianlah pahala yang luar biasa dari ibadah haji atau umrah. Maka perhatikanlah, persiapkanlah, salah satunya dengan memilih bimbingan haji / umrah yang memberikan perhatian terhadap kelancaran ibadah dan bimbingan ibadah haji/umrah itu sendiri.

Pandeansari, 23 Rabiul Awal 1439H - 11 Des 2017.

———-
Maqoshidul Hajj, Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al Badr, Penerbit : Darun Nashihah
Al Mulakhos Al Fiqhy, Syaikh Sholih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan, Penerbit : Darul Jauzi. Dibacakan dan dijelaskan oleh ustadz Aris Munandar.

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami