Meraih Keberkahan dalam Bisnis Umrah

104

Perdagangan merupakan salah satu pintu rezeki yang Allah halalkan bagi setiap muslim untuk memasukinya. Tak hanya barang yang bisa dijual, namun juga jasa. Salah satu di antara bisnis jasa yang banyak dijalankan oleh para penguasa muslim adalah travel haji dan umroh.
 
Untuk mendapatkan keberkahan, maka semua itu tentu tidak lepas dari niat dan maksud bisnis tersebut. Jika sekedar bisnis saja, maka hanya dunia saja yang didapatkan. Namun jika niatnya untuk membantu kaum muslimin untuk menunaikan ketaatan, maka ia bernilai pahala.
 
Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda:
 
إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى
 
"Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya." [HR Al Bukhari dan Muslim]
 
Ibnul Qayyim dalam I'lamul Muwaqqi'in menjelaskan:
 
وقد تظاهرت أدلة الشرع وقواعده على أن المقصود في العقود معتبرة وأنها تؤثر في صحة العقد وفساده وفي حله وفي حرمته
 
"Dalil-dalil dan kaidah syariat saling menguatkan bahwa niat dalam suatu akad itu diperhitungkan. Dan hal tersebut berpengaruh pada keabsahan akad atau rusaknya, halalnya atau haramnya.."
 
Beliau mencontohkan tentang jual beli senjata:
 
السلاح يبيعه الرجل لمن يعرف أنه يقتل به مسلماً حرام باطل لما فيه من الإعانة على الإثم والعدوان، وإذا باعه لمن يعرف أنه يجاهد به في سبيل الله فهو طاعة وقربة
 
"Senjata yang dijual seseorang jika ia ketahui akan digunakan untuk membunuh seorang muslim, maka haram dan batil karena di dalamnya terdapat pertolongan pada keburukan dan permusuhan. Seandainya ia jual kepada seseorang yang diketahui dia berjihad di jalan Allah dengan senjata tersebut, maka jual beli tersebut termasuk dalam ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah."
 
Selain mendapatkan keberkahan dan pahala, para pelaku bisnis umrah jika meniatkan diri mereka untuk melayani umat, maka orientasi akhirat yang akan lebih mendominasi tujuan dunianya. Dengan itu, mereka tidak terdorong untuk melakukan hal-hal yang melanggar syariat demi meraih tujuannya, baik itu dengan mentoleransi bid'ah, atau membiarkan kemaksiatan, atau yang lainnya.
 
Maka dari itu, mari kita kembali mengevaluasi niat kita secara berkala, apakah benar masih untuk Allah, ataukah sudah bergeser ke tujuan duniawi semata? Allahul musta'an.

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami