Utang Piutang Sesama Jamaah Haji, Bisa Jadi Riba...

797

Kadangkala seorang jamaah haji atau umrah kehabisan uang riyal padahal ia masih membutuhkan untuk berbelanja atau bertransaksi, sedangkan saat itu tidak ada tempat penukaran uang terdekat atau ia tidak punya uang rupiah dalam bentuk tunai. Maka ia pun meminjam uang riyal ke temannya.

Biasanya pihak terhutang meminta agar hutangnya dibayar di tanah air dalam bentuk rupiah daripada ia pulang membawa sisa riyal. Bagaimana hukumnya seperti ini?

Jawabannya, tidak boleh. Sebab dalam hal ini terdapat dua transaksi sekaligus: Hutang, dan tukar menukar.

Permasalahan pertama terkait hutang: Seseorang yang berhutang, maka harus mengembalikannya dengan jumlah uang yang sama. Jika ia mengembalikannya dalam bentuk rupiah, maka ia harus konversi rupiah tersebut dengan kurs yang berlaku saat pengembalian hutang, bukan saat peminjaman, agar nilai riyal yang dikembalikan berjumlah sama. Misal, ia berhutang 10 riyal, saat kurs Rp. 3500 per riyal. Ketika ingin dibayarkan dalam bentuk rupiah, maka ia harus tetap bernilai 10 riyal pada saat pembayaran, walaupun kursnya telah naik, misal Rp. 4000 per riyal, maka total yang ia bayarkan adalah Rp. 40.000;.

Permasalahan kedua terkait penukaran: Jika sejak awal pemimjaman uang riyal telah disepakati untuk mengembalikannya nanti di tanah air dalam bentuk rupiah, maka telah terjadi riba dalam hal ini, karena kaidah mengatakan: Tukar menukar uang harus tunai, karena uang termasuk barang ribawi. Penundaan penyerahan dari kedua mata uang atau salah satu dari keduanya tidak diperbolehkan.

Dengan menilik kedua permasalahan di atas, maka yang terlarang adalah:
1. Berhutang riyal dengan pengembalian rupiah namun menggunakan kurs saat berhutang.
2. Berhutang riyal dengan kesepakatan akan dikembalikan dalam bentuk rupiah, alias ketika akad tukar menukar telah disepakati adanya penundaan, padahal seharusnya tunai.

Sehingga solusi yang bisa dilakukan adalah:
1. Berhutang riyal, dan dibayar dengan riyal.
2. Boleh dibayar dengan rupiah, namun harus tunai saat itu juga, baik dengan cash ataupun transfer.
3. Boleh dibayar tertunda dengan rupiah dengan syarat:
- tidak ada kesepakatan di awal untuk nanti dibayar dengan rupiah,
- harus menggunakan kurs saat pengembalian hutang.

Demikian pedoman singkat dalam hutang piutang sesama jama'ah, semoga kita bisa terhindar dari riba sekecil apapun itu. Aamiin.

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami