Jangan Mengambil Ilmu dari Mereka

261

Jangan Mengambil Ilmu dari Mereka

Imam Darul Hijrah, Malik bin Anas Rahimahullah pernah berkata, “Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: Pertama, orang bodoh yang menyatakan kebodohannya, meskipun dia adalah orang yang paling banyak meriwayatkan. Kedua, seseorang yang gemar melakukan amalan yang baru dalam agama serta mengajak manusia untuk menuruti hawa nafsunya tersebut. Ketiga, orang yang suka berdusta saat berbicara dengan orang lain, meskipun aku tidak menuduhnya berdusta berkenaan dengan hadits. Keempat, orang shalih yang tidak hafal hadist yang diceritakannya. (Siyar a’lam an-nubala, 8/67,68)

Diatas adalah kriteria ketat yang diberikan oleh Imam Malik kepada para muridnya apabila ingin mengambil seseorang menjadi guru. Karena sebagaimana Ibnu Sirin pernah berkata, “Ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari mana ia mengambil agamanya.”

Pertama, janganlah seorang mengambil ilmu dari orang yang  menampakkan kebodohannya. Semisal ada seorang guru yang sedari awal mengatakan bahwa saya hanya mempunyai penguasaan di bidang fikih saja, adapun bidang hadits saya lemah. Maka, tatkala beliau menyampaikan masalah hadits, hendaknya diteliti terlebih dahulu apakah sudah benar yang beliau sampaikan atau justru sebaliknya.

Kedua, ilmu tidak boleh diambil dari orang yang sering memperturutkan hawa nafsunya serta mengajak manusia untuk mengikutinya. Terlebih lagi dalam hal agama. Agama islam adalah agama yang sempurna dan tidak perlu adanya penambahan dan pengurangan. Sehingga tidak boleh seseorang mengambil ilmu dari orang yang sering melakukan amalan-amalan yang baru dalam agama yang mulia ini.

Ketiga, orang yang tidak boleh diambil ilmunya adalah orang yang gemar berdusta saat berbicara dengan orang lain. Meskipun dalam menyampaikan hadits, dirinya tidak pernah berdusta. Karena ilmu agama ini adalah mulia. Sedangkan dusta adalah akhlak tercela yang buruk. Sehingga tidaklah boleh diambil ilmu agama ini dari orang yang berperangai buruk dalam akhlaknya.

Keempat, tidak boleh mengambil ilmu dari orang shalih yang tidak hafal secara benar tentang hadits yang diceritakannya. Karena betapa banyak orang yang salah redaksi hadits kemudian disampaikan kepada khalayak ramai sehingga tersebarlah redaksi yang salah tersebut. Meskipun yang membawakan ilmu tersebut adalah orang yang shalih. Apabila ia tidak berilmu dengan hadits yang ia bawakan, maka ilmu tidak berhak diambil darinya.

Sebagaimana pekataan Ibnu Sirin di atas, maka hendaknya kita selektif dalam memilih guru ketika belajar agam sebagaimana kita sangat selektif memilih dokter untuk berkonsultasi tentang penyakit kita.

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Partner Kami