Meraih Keberkahan Waktu

29

Meraih Keberkahan Waktu

Waktu merupakan modal utama seorang muslim hidup di dunia. Bukan harta, bukan pula hal yang lainnya. Para ulama berkata bahwa waktu adalah nafas yang tidak akan kembali. Benar saja. Setiap detik dari waktu kita yang berlalu tidak akan pernah kembali.

Sebagaimana kata Al-Imam Al-Bashri dan Abu Darda’: manusia hanyalah kumpulan hari-hari, tatkala hari itu berlalu, maka berlalunya bagian dari dirinya. (Hilyatul Auliya)

Namun yang wajib seorang muslim yakini adalah bahwa waktu tersebut akan tereview ulang ketika di akhirat nanti. Tatkala seorang hamba disidang di hadapan Allah, maka Allah akan buka seluruh waktu di hidupnya. Tujuannya adalah agar manusia mengingat kesalahan dan dosa yang pernah dibuatnya di dunia dan agar Allah dapat menegakkan pengadilanNya. Oleh karena itu, janganlah seorang lengah dan lalai terhadap waktunya. Bahkan jangan sampai ia memiliki keyakinan bahwa waktunya tersebut akan berlalu begitu saja tanpa ada pertanggung jawaban di dalamnya. Padahal nanti di akhirat, waktu kita di dunia akan diputar ulang tanpa kita sedikitpun tidak bisa mengelak di hadapan Allah akan semua yang kita kerjakan. Bila di pengadilan dunia, kita bisa memiliki pengacara yang dapat membela saat kita terkena kasus tertentu, maka di akhirat, kita tidak bisa menyewa pengacara. Bahkan pengacara di dunia pun akan disiding oleh Allah atas apa yang ia bela. Maka mana mungkin ia akan bisa membela dirinya sendiri. Oleh karena itu hendaknya kita manfaatkan benar-benar waktu kita di dunia ini sebelum nanti kita menyesal saat hari persidangan.

Rasulallah ﷺ bersabda,

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.

“Tidak akan beranjak kaki anak Adam di hari kiamat hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan kemana dibelanjakan serta apa yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2416)

Seseorang akan ditanya langsung oleh Allah tentang waktunya. Maka hendaknya seseorang menyiapkan jawaban yang terbaik di sisi Allah.

 

Pentingnya Waktu Menurut Para Ulama

 

Hasan Al-Bashri mengatakan : “Aku menemukan sekelompok kaum yang mana mereka lebih pelit terhadap waktu mereka ketimbang kalian pelit terhadap dinar dan dirham.” (mereka adalah para ulama)

Amir bin Qais mengatakan kepada sekelompok kaum yang ingin mengajak beliau bersenda gurau dan berkumpul-kumpul dengan mereka, beliau berkata, “tahanlah matahari agar tidak terbenam, maka aku akan mengikuti kalian.” Karena waktu adalah hal yang sangat cepat berlalu.

Ibnu Mas’ud berkata, "Tidaklah aku menyesal terhadap sesuatu yang berlalu pada hari itu (yakni tatkala matahari terbenam) dan waktu hidupku berkurang, namun amalku tidak bertambah sama sekali.

Al-Faruq Rahimahullah berkata, “Aku sangat membenci melihat seseorang yang tidak melakukan apapun, Ia tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk dunianya, juga tidak untuk akhiratnya.”

Ibnu Asakir berkata tatkala menceritakan biografi seorang fakih yang bernama Sulaim bin Ayyub Ar-Razi, ia berkata : “Sulaim bin Ayyub selalu mengintrospeksi dirinya setiap hari. Maka ia tidak pernah membiarkan waktu terlewat dari dirinya begitu saja tanpa faidah melainkan ia mengisinya dengan menulis, menyalin, mengajar, ataupun membaca.”

Ibnu Jauzi berkata : “sungguh ku telah menyaksikan banyak orang yang tidak mengetahui makna kehidupan yang sesungguhnya, sebagian dari mereka diberikan kecukupan oleh Allah dengan banyaknya harta, ia menghabiskan banyak harinya di pasar melihat lalu lalang manusia dan betapa banyak kemungkaran dan dosa yang ia lihat. Banyak dari mereka yang berkhalwat dengan bermain catur. Di antara mereka pula banyak orang yang menghabiskan waktunya untuk membicarakan kejelekan penguasa, dan di antara mereka ada yang menghabiskan waktunya untuk sekedar membicarakan kebutuhannya sehari-hari. Dan masih banyak lagi yang lain.

Dan aku tahu bahwa Allah tidaklah menunjukkan mulianya umur dan pengetahuan tentang kadar waktu-waktu yang selamat kecuali ketika seseorang tsb mengerti dan faham serta memanfaatkan hal tersebut. (Shoidul Khatir : 241)

Maka tidak berhenti sampai disitu, seorang ulama yang bernama Khalil bin Ahmad Al-Farahidi mengatakan, “waktu terberat bagiku adalah waktu makan.” (Al Hatsu ‘ala Thalabul ilmi : 87)

Muadz bin Jabal bun berkata, “Seluruh majlis yang di dalamnya seorang hamba tidak menyebut nama Allah maka ia akan mengalami kerugian dan penyesalan di hari kiamat. (Al-Wabilush Shayyib : 59)

Fakhrurrazii mengatakan : “Demi Allah, aku sangat menyayangkan waktu yang hilang dalam diriku dari nikmatnya ilmu saat waktu makan. Karena waktu adalah suatu barang yang mulia.” (Uyuunul An-Baa : 1/462)

Sulaiman ad-Daraniir berkata : jika seorang yang berakal tidak menangis atas waktu yang telah lewat darinya dengan sia-sia kecuali waktu yang lewat dan diisi dengan ketaatan, melainkan ia akan menangis hingga akhir hayatnya.” (Hilyatul Auliya : 9/275)

Ibnul Qayyim berkata, “Menyia-nyiakan waktu lebih berat daripada kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskan hubungan seseorang dari Allah dan hari akhirat sedangkan kematian hanya memutuskan seseorang dari dunia dan penduduknya.” (Al-Fawa’id : 44)

Maka tatkala kita mengetahui bagaimana para ulama benar-benar menjaga waktunya, berikut ini kami berikan beberapa tips agar waktu kita bisa terjaga dari kesia-siaan dan nantinya menjadi keberkahan bagi si pemilik waktu.

  1. Tinggalkan perbuatan yang sia-sia.
  2. Jauhi sifat menunda-nunda. Hasan Al bashri menasehati : “hati-hati dengan sikap menunda-nunda, karena engkau berada di hari ini dan bukan berada di hari esok. Jika esok tiba, maka engkau berada di hari tsb. Sedangkan sekarang engkau berada di hari ini. Jika besok tidak menghampirimu, maka janganlah engkau sesali atas apa yang luput darimu.” (Ma’alaim fit Thoriq)
  3. Manfaatkan setiap detik untuk kebaikan dan ibadah.

 

diposting oleh : Admin PT. Batik

Layanan Kontak

Alamat

Email

Hotline

Lihat semua

Berita

Partner Kami