Cintamu Palsu

Sering kita dengar, pemuda mengatakan kepada pemudi: Uhibbuki fillah (aku mencintaimu karena Allah). Padahal ia tidak mengetahui makna sebenarnya dari kalimat tersebut.

Hubb memang terjemahnya adalah cinta. Tapi dalam bahasa Indonesia, cinta cakupannya luas, mencakup cinta karena persaudaraan, cinta karena kagum, cinta karena nafsu, dan lain-lain. Sedangkan dalam bahasa arab, terdapat ungkapan yang berbeda-beda untuk jenis cinta yang berbeda.

Seperti misalnya kata “takut”. Dalam bahasa Arab, ada khauf (takut karena khawatir), ada khasyah (takut karena mengangungkan dzat yang ditakuti), shamt (diam karena bijak) dan sukut (diam karena takut), dan lain-lain.

Kembali ke masalah istilah cinta, Hubb artinya mailul qalbi ila syai’in atau condongnya hati kepada sesuatu. Inilah makna hubb yang banyak disebutkan dalam Al Quran maupun hadits, semisal:

تهادوا تحابوا

“Hendaknya kalian saling memberi hadiah agar kalian saling mencintai.”

Adapun yang diungkapkan oleh para pemuda di masa sekarang sebagai bentuk hubb, sejatinya adalah al-Isyq. Menurut Ibnul Munzhir dalam Lisanul Arab, isyq artinya : فَرْطُ الْحُبِّ (cinta yang berlebihan), atau kasmaran kalau dalam bahasa kita.

Jadi ada dua hal di sini terkait pengakuan mereka soal cinta:

1. Mereka tidak tahu makna dari kalimat yang ia katakan, atau
2. Mereka tahu bahwa itu hanya nawa nafsunya, namun ia atas namakan cinta. Dan inilah cinta palsu.

Kalau benar mereka mengatakan “uhibbuki fillah” sebagai bentuk penerapan cinta yang sejati, maka itu perlu pembuktian. Karena semua cinta butuh pembuktian. Allah dalam QS Ali-Imran: 31:

 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي

“Katakanlah wahai Muhammad, jika kalian betul-betul mencintai Allah, maka ikutilah aku.”

Maka, untuk membuktikannya, perhatikan sabda Rasulullah berikut:

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

“Tidaklah sempurna iman salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai kebaikan untuk saudaranya seperti dia cinta hal itu untuk dirinya sendiri.”

Kalau benar-benar mencintai seorang wanita tapi belum bisa menikahinya, maka justru harus menjauhinya demi kebaikan wanita tersebut.

Maka nasehat kami untuk kaum muslimin, terutama para pemuda:

1. Jangan mengatasnamakan agama untuk cinta yang dilandasi oleh nafsu.

Apakah tidak boleh cinta karena nafsu? Ya boleh saja, karena memang nafsu itu bagian dari bawaan manusia, Allah berfirman dlm QS Ali-Imran: 14:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ , وَالْبَنِينَ , وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ , وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ , وَالأَنْعَامِ , وَالْحَرْثِ . ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah di mata manusia: kecintaan kepada syahwat, yaitu apa-apa yang diinginkan oleh jiwa, berupa: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak, kuda yang terpelihara, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”

Jadi, cinta kepada syahwat bukan suatu yang tercela. Hanya saja, Allah hendak menguji apakah kita taat pada aturan dan batasan yang dibuat Allah dalam masalah kecintaan terhadap macam-macam syahwat dunia ini.

2. Jangan menuruti cinta palsu, dengan cara berpacaran.

Karena pacaran termasuk melanggar firman Allah:

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

“Jangan mendekati zina, sesungguhya ia adalah hal yang keji dan jalan yang buruk.”

Hendaknya para pemuda tidak bermudah-mudahan menjalin hubungan dengan wanita, bahkan jangan terlalu akrab. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah ada sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya untuk laki-laki, daripada fitnah wanita.”

3. Dan bagi para wanita, jangan mudah dirayu dengan cinta palsu berkedok hari kasih sayang. Semua itu adalah budaya barat, dan kita dilarang untuk mengekor budaya mereka.

4. Jangan mudah dijanjikan dengan pernikahan tanpa ada iktikad dan tindakan nyata.

Semoga dengan ini, kita bisa mengenali cinta mana yang palsu, dan mana cinta yang sejati.

Aamiin.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *