Generasi Muda dan Games

“Pagi-pagi dan adem begini enaknya ngapain ya?”

“Produktif bro, bisa baca buku atau belajar online.”

“Ngomong-ngomong tentang online, main game online sama gua, yuk!”

“Wah, sebelum itu sudah baca penjelasan tentang game atau belum nih?”


Game atau permainan secara umum hukumnya mubah, berdasar kaidah:

الأصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم

“Hukum asal dari segala sesuatu adalah boleh, sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri juga pernah bermain dengan ‘Aisyah dengan mengajaknya lomba lari. Ini menunjukkan bahwa bermain adalah suatu hal yang wajar dilakukan dan tidak terlarang pada asalnya.

Maka dari itu, semua permainan itu boleh kecuali yang dilarang syariat. Berikut di antara bentuk permainan yang terlarang:

Pertama, permainan dadu dan turunan darinya (monopoli, ular tangga, dan sejenisnya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من لعِب بالنَردَشير فكأنما صبَغ يده في لحمِ خنزير ودمِه

“Siapa yang bermain dadu, seolah dia telah mencelupkan tangannya ke dalam daging babi berikut darahnya.” (HR Muslim)

Dadu diharamkan karena mengandung peruntungan dan mengarah kepada perjudian, sebagaimana mencelupkan tangan ke daging babi adalah satu langkah sebelum menyantapnya.

Kedua, permainan yang mengandung judi atau taruhan.

Judi atau maisir, secara ringkas adalah mengeluarkan uang, lalu kemungkinannya untung atau rugi.

Sebagian ulama membolehkan taruhan untuk permainan yang mendukung kepada i’dad atau persiapan jihad, seperti renang, gulat, dan lain-lain. Namun selain permainan tersebut, maka hukumnya haram jika dilakukan dengan taruhan.

Termasuk segala game berbasis teknologi, jika disertai taruhan maka masuk dalam hukum haram ini, karena tidak termasuk permainan yang mendukung persiapan jihad.

Ketiga, permainan yang secara umum melalaikan.

Allah Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ , قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan maisir. Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa yang besar, dan manfaat bagi manusia. Namun dosanya lebih besar daripada manfaatnya.”

Maisir tidak hanya bermakna judi, tapi bisa juga semua yang melalaikan. Kata Al Qasim bin Muhammad:

كل ما ألهى عن ذكر الله وعن الصلاة فهو ميسر

“Semua hal yang melalaikan dari mengingat Allah, dan juga dari shalat, maka itu maisir.”

Al Qurthubi mengatakan:

فكل لهو دعا قليلُه إلى كثيرهِ وأوقع العداوة والبغضاء بين العاكفين عليه وصد عن ذكر الله وعن الصلاة فهو كشُرب الخمر وأوجب أن يكونَ حراماً مثلَه

“Setiap permainan yang menimbulkan permusuhan dan kebencian di atara pemainnya, serta menghalangi dari mengingat Allah, dari shalat, maka hukumnya seperti meminum khamr, sehingga mesti dihukumi haram sebagaimana khamr.”

Beliau mengatakan hal itu ketika menyebutkan keharaman bermain dadu (nard) dan catur (syintronj).

Dengan ini pula, permainan lain yang sejenis, seperti main kartu, diharamkan lajnah karena dianggap melalaikan dari mengingat Allah. Selain itu main kartu juga identik dengan perjudian.

Jika catur dan main kartu saja dianggap para ulama sebagai permainan yang melalaikan, maka bagaimana dengan game yang lebih mengasyikkan dari keduanya?

Keempat, permainan yang mengandung konten maksiat, seperti membuka aurat, mengandung musik, dan konten yang bertentangan dengan aqidah seperti adanya orang yang bisa menghidupkan yang mati, sihir, dan lain sebagainya.

Kelima, permainan yang menimbulkan permusuhan, merusak hubungan terutama ke sesama muslim, serta merusak moral.

Maka berdasarkan kriteria-kriteria di atas, seseorang hanya dibolehkan bermain game sesekali saja dan tidak boleh menjadikan game sebagai aktivitas hariannya, sebab itu artinya game telah menjadikannya lalai dari mengingat Allah dan membuat waktunya habis untuk hal yang sia-sia.

Dampak Terlalu Sering Bermain Game

Jika kita telaah, ternyata terdapat keburukan-keburukan jika seseorang terlalu sering bermain game:

1. Menyia-nyiakan waktu. Padahal dalam Al Quran Surat Al Ashr, Allah bersumpah dengan waktu. Hal ini menunjukkan pentingnya waktu, dan ruginya manusia seandainya waktunya tersia-siakan untuk hal yang sedikit manfaatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya: Nikmat kesehatan dan waktu luang.”

2. Terjerumus dalam menghamburkan harta, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الله كرِه لكم ثلاثا قيل وقال وكثرةَ السؤال وإضاعةَ المال

“Allah membenci tiga hal dari kalian: Mengikuti desas-desus, banyak bertanya tanpa faidah, dan menyia-nyiakan harta.”

3. Tidak menjaga muruah/wibawa jika hal itu dilakukan oleh seorang penuntut ilmu agama.

Maka kami tutup penjelasan ini dengan nasehat dari Imam Syathibi:

وكذلك اللهو ، واللعب ، والفراغ من كل شغل إذا لم يكن في محظور ، ولا يلزم عنه محظور – فهو مباح ، ولكنه مذموم ولم يرضه العلماء ، بل كانوا يكرهون أن لا يُرَى الرجلُ في إصلاح معاش ، ولا في إصلاح معاد ; لأنه قطع زمان فيما لا يترتب عليه فائدة دنيوية ولا أخروية .

“Begitu pula bersenang-senang, bermain, dan meluangkan waktu dari segala kesibukan, jika tidak dalam hal yang terlarang atau menyebabkan jatuh kepada hal yang dilarang, maka ia hukumnya boleh. Akan tetapi hal itu dicela dan tidak disukai oleh para ulama, bahkan mereka membenci jika seseorang terlihat melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi penghidupannya dan tidak pula memperbaiki hari akhirnya. Karena hal itu menghabiskan waktu pada hal yang tidak ada faidahnya, baik duniawi maupun akhiratnya.”

Hendaknya kita memanfaatkan waktu untuk hal yang lebih bermanfaat terutama untuk akhirat kita, karena kita tidak tahu kapan wafat. Dikatakan dalam sebuah syair:

وكم من فتى يمسي ويصبــــح لاهـيا ً ضَاحِكًا وقد نُسجت أكفانه وهو لايدري

“Betapa banyak pemuda yang siang dan sore bermain dan tertawa, sedangkan kain kafan mereka telah dijahit sedangkan mereka tidak menyadari.”

Dan seseorang akan diwafatkan sesuai dengan kebiasaannya. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

“Setiap hamba akan dibangkitkan di atas apa yang ia mati di atasnya.” (HR Muslim)

Al-Munawi mengatakan:

أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ

“Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani dan ia dibangkitkan di atas hal itu.”

Apakah kita ingin wafat dalam keadaan shalat, menuntut ilmu, dan amal-amal shalih lain? Ataukah wafat di atas perbuatan yang sia-sia, seperti main game? Na’udzubillah.

Semoga Allah wafatkan kita semua di atas husnul khatimah. Aamiin.

Butuh cemilan kurma? madu? air zam-zam di rumah anda? kami siap membantu!


Ditulis oleh: Ustadz Ristiyan Ragil P.

Diposting oleh: Tim BATIK

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *