Mengedepankan Prasangka yang Baik Kepada Saudara Kita

“Bro, tadi malam lihat bulan purnama? indah banget, lho!”

“Ndak lihat, tapi masyaAllah, semoga Allah memberkahimu..”

“Wah sayang banget, eh maksudnya apa? ngejek ya?”

“Enggak kok, husnuzhon dulu dong, bro.. Gue kan doain elu.. hehe”


Kadang kita mengalami suatu keadaan yang dikenal dengan istilah “salah ucap”, yaitu ketika kita memaksudkan sebuah perkataan namun ternyata diungkapkan dengan kata-kata yang tidak tepat sehingga menimbulkan salah paham.

Berikut adalah kisah mengenai dua sahabat sekaligus guru dan murid di masa terdahulu, yaitu Imam Asy Syafi’i, dan murid beliau, Ar Rabi’ ibn Sulaiman, yang bisa kita jadikan teladan dalam permasalahan ini.

Suatu hari Imam Rabi’ bin Sulaiman menemui Imam Syafi’i yang sedang sakit. Maka Ar Rabi’ mengatakan:

قوى الله ضعفك

“Semoga Allah menguatkan kelemahanmu.”

Maka Imam Syafi’i membalas:

لو قوى ضعفي قتلني

“Kalau Allah menguatkan kelemahanku, niscaya Dia akan mematikanku.”

Ar Rabi’ pun mengatakan:

والله ، ما أردت إلا الخير

“Demi Allah, maksudku bukan itu.. Melainkan ingin mendoakan yang baik.”

Imam Syafi’i menjawab:

أعلم أنك لو شتمتني لم ترد إلا الخير

“Aku tahu, bahkan seandainya engkau mencaciku pun, aku tahu maksudmu pasti baik.”

Dalam riwayat lain, beliau meluruskan kata-kata Ar Rabi’:

قل قوّى الله قَتك، و ضعّف ضعفك

“Katakanlah: Semoga Allah menguatkan kekuatanmu, dan melemahkan kelemahanmu.”

(Manaqib Asy Syafi’i, hal 274)

Pelajaran yang dapat kita ambil adalah, hendaknya mengedepankan prasangka baik atas ucapan saudara kita, terutama jika mengingat bahwa hal itu tidak sesuai dengan kebiasaan sehari-harinya.

Semoga Allah mengaruniakan husnuzhon kepada kita semua.

Aamiin.

Ditulis dan diposting oleh: Tim BATIK
Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *