Waspada Futur

Futur dari kata fatara-yafturu-futuur, yang artinya melemah. Secara istilah artinya lesunya hati setelah masa semangat.

Futur adalah penyakit hati sebagaimana wahn, ujub, kibr, dan lain-lain. Sehingga kadang penyakit ini tidak disadari, sehingga pelakunya tidak mencari kesembuhan.

Futur bisa dalam beramal ibadah, atau dalam menjalankan syariat, sehingga mulai meninggalkan kewajiban atau melanggar larangan. Termasuk futur: beralih dari sunnah menuju bid’ah. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ ، فَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

“Setiap amalan ada masa semangatnya, dan setiap semangat ada futurnya. Siapa yang semangatnya menuju kepada sunnahku, maka dia beruntung. Dan siapa yang futurnya kepada selain itu, maka dia celaka”

Kita yang lahir dalam kondisi Islam, tentu mengalami pasang surut keimanan. Dan itulah keyakinan Ahlus Sunnah tentang iman, yaitu bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiatan.

Jadi, futur itu bisa dikatakan hampir terjadi pada setiap orang. Ada yg bersifat sementara, ada yang permanen -na’udzubillah, kita berlindung dari yang demikian-.

Di antara sebab-sebab munculnya penyakit futur adalah sebagai berikut :

1). Hilangnya keikhlasan.
Ikhlas itu soal niat. Kata Nabi:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وإنما لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنكحها فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”

Kadang orang hijrah, awalnya ikhlas. Dia sadar dia banyak maksiat, dia ingat akhirat. Lalu seiring dengan waktu, Allah berikan sedikit ujian dengan ketenaran, bahkan harta. Sehingga seolah ia mendapatkan semua itu karena hijrah. Lalu Allah cabut lagi nikmat tersebut, ternyata dia menjadi futur. Rupanya niatnya sudah bukan untuk Allah.

Oleh sebab itu, menjaga niat itu penting. Krn memang berubah2. Sufyan mengatakan:

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي … لأَنَّهُ تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ

“Aku tidak pernah merasa sulit mengobati sesuatu melebihi niatku sendiri, karena ia berubah-ubah”

2). Lemahnya ilmu Syar’i.
Ilmu itu sejatinya sarana untuk beramal. Tapi ada satu fungsi ilmu yang perlu kita ketahui, yaitu supaya kita semakin takut kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu”

Jadi kadang kita ini sudah berilmu, tapi ilmu kita tidak menambah takut kepada Allah. Bahkan yang lebih parah, ilmu menjadi pembenaran kemalasan kita. Misal kita tahu bahwa suatu amalan itu diperintahkan, tapi kita malas karena tahu itu sunnah.

Atau bahkan ilmu menjadi pembenar kemaksiataan kita. Kita merasa aman bermaksiat karena berdalil Allah Maha Pengampun, karena maksiat tersebut bukan kesyirikan, dan seterusnya. Na’udzubillah.

3). Kecintaan hati yang besar kepada dunia dan banyak melupakan akhirat.

Namanya hidup di dunia, tidak lepas dari godaan. Ada kalanya kita mencari dunia ini, begitu dapat banyak, kita lupa. Waktu kita mulai habis untuk dunia, dan perlahan akhirat kita lupakan.

Padahal Allah perintahkan untuk mencari akhirat, dengan firman-Nya:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Carilah dari apa yang Allah berikan kepadamu berupa negeri akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia”

4). Fitnah (cobaan) berupa isteri dan anak.

Ini juga bagian dari kesibukan dunia sebagaimana harta. Allah sudah mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri dan anakmu ada yang menjadi musuh bagimu”

Kenapa jadi musuh? Karena mereka menjadikan lalai dari beramal, sebagaimana firman Allah:

ياأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”

Berkeluarga tidak harus menjadikan futur. Justru jadikan sarana untuk menaikkan keimanan, dengan mendidik mereka. Kalau mau mendidik, tentu kita harus ngaji. Sedangkan kita diperintahkan untuk menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka.

5). Hidup di tengah masyarakat yang rusak.

Kalau kita hidup di lingkungan yang banyak kemaksiatan, maka kita akan terbiasa dgn maksiat itu. Lalu memakluminya, bahkan boleh jadi suatu saat ikut berbuat maksiat.

6). Berteman dengan orang-orang yang lemah dalam beramal.

Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

المرأ على دين خليله

“Seseorang berada di atas agama temannya”

Jika kita berteman dengan yang malas beribadah, kita akan terpengaruh. Begitu pula dengan yang suka bermaksiat, itu juga akan mempengaruhi kita. Maka kita harus betul-betul teliti dalam memilih teman.

7). Lemahnya iman.

Kita kadang malas beribadah karena kita kurang percaya dengan pahala, karena pahala tidak terlihat. Padahal, mempercayai sesuatu yang tidak terlihat (ghaib) adalah hakikat iman.

Kurang yakinnya kita dengan pahala dari Allah, itulah lemahnya iman. Maka, kita perlu untuk meningkatkan lagi keimanan kita terhadap pahala dan janji Allah, iman terhadap keberadaan malaikat yang senantiasa mengawasi perbuatan kita, agar kita terdorong untuk beramal baik dan menjauhi amal buruk.

8). Menyendiri, dan tidak mau bergabung dengan saudara seiman yang lainnya, saling tolong menolong dalam kebaikan.

Rasulullah sudah memperingatkan kita untuk berjama’ah, beliau bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ

فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

“Hendaknya kalian berjama’ah, karena serigala hanya akan memakan domba yang menyendiri”

Demikian beberapa sebab seseorang menjadi futur. Kita berdoa kepada Allah agar dihindarkan dari kefuturan, dan kita memohon keistiqomahan dari Allah. Aamiin.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *