Berdakwah Melalui Media Sosial

“Share post ini ahhh, gokil nih!”

“Ya elah broo, mending share yang lebih manfaat gitu, kali aja jadi pahala dakwah sekalian sambil belajar.”

“Kan gue awam ni, masa’ share-share begituan?? ntar malam pada nanya ke gue gimana?

“Nah ya itu karena awam, jadi bisa sambil belajar, selangkah maju lebih baik daripada selalu diam di tempat, bro!”


Dakwah adalah kewajiban setiap muslim sesuai dengan kemampuannya, Allah Ta’ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّه

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kalian mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah hal-hal yang dilarang, dan kalian beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 104)

Dalil bahwa kewajiban tersebut sesuai kemampuan adalah firman Allah:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang kecuali atas kesanggupannya.”

Oleh karena kapasitas kita sebagai pemuda penuntut ilmu yang mempunyai akun media sosial, maka ini termasuk kemampuan yang bisa kita manfaatkan untuk berdakwah. Kemampuan ini jangan sampai disia-siakan lantaran pahalanya yang besar, sebagaimana sabda Rasulullah:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Siapa saja yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.”

Dakwah, baik itu di media sosial maupun di dunia nyata, adalah bentuk ibadah yang mestinya harus memenuhi dua syarat:

Pertama: Ikhlas, yaitu meniatkan ibadah hanya kepada Allah. Ini paling berat bagi seorang da’i, semisal:

– Tidak mencari dunia/popularitas dengan dakwah,
– Tidak gembira dengan banyakya pengikut, dan sedih dengan sedikitnya pengikut. Jika kaitannya dengan media sosial, ia tidaklah terpengaruh dengan jumlah like dan follower.

Kedua: Mutaba’ah atau ittiba’, yaitu mengikuti tuntutan Nabi.

Ittiba’ bukan dari sisi metode penyampaian, sarana, dan lain-lain. Karena semua itu masuk dalam bab wasilah, yang hukum asalnya mubah. Mutaba’ah di sini maksudnya adalah tidak menyimpang dari jalannya Nabi, yaitu:

1. Memulai dakwah dengan tauhid.

Semua Rasul diutus dengan dakwah tauhid. Allah berfirman dalam QS Al A’raf:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia mengatakan: “Wahai kaumku, sembahlah Allah saja, tidak ada sesembahan bagi kalian selain-Nya.”

وَاِلٰى عَادٍ اَخَاهُمْ هُوْدًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ

“Dan kepada kaum Ad, kami utus saudara mereka Hud, ia berkata: “Wahai kaumku, sembahlah Allah saja, tidak ada sesembahan bagi kalian selain-Nya.”

وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًاۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ

“Dan kepada kaum Tsamud kami utus saudara mereka, Shalih, ia mengatakan: “Wahai kaumku, sembahlah Allah saja, tidak ada sesembahan bagi kalian selain-Nya.”

وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ

“Dan kepada kaum Madyan, kami utus saudara mereka, Syu’aib, ia mengatakan: “Wahai kaumku, sembahlah Allah saja, tidak ada sesembahan bagi kalian selain-Nya.”

2. Tidak mengorbankan materi dakwah demi jumlah pengikut.

Dahulu Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun pengikutnya sedikit. bahkan di hari kiamat nanti akan ada nabi yang tanpa pengikut sama sekali. Ini membuktikan bahwa banyaknya pengikut bukanlah tujuan utama dakwah. Seandainya patokannya adalah jumlah pengikut, tentu Nabi-nabi tersebut telah gagal mengemban risalah.

Jika kita kaitkan dengan dakwah di media sosial, maka jangan ikut tren hanya demi menambah pengikut dan jumlah like. Jangan mengurungkan diri dari menyampaikan kebenaran demi mencari simpati banyak orang.

3. Tidak berbicara tanpa ilmu.

Sebab dakwah ini dibangun di atas hujjah dan dalil. Allah berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَ مَآ أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikuti mengajak kepada Allah di atas ilmu. Dan Maha Suci Allah, dan aku tidaklah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya” (QS. Yusuf: 108)

Seandainya kita tidak punya ilmu, atau kurang ilmu sehingga tidak bisa menyampaikan ceramah atau menulis artikel, maka dengan membagikan video atau artikel ustadz yang terpercaya pun juga termasuk dakwah. Yang dituntut adalah, ketika kita berdakwah, maka kita harus mengilmui materi yang kita dakwahkan.

4. Berdakwah dengan hikmah.

Allah berfirman:

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah mereka ke jalan Allah dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik.”

Hikmah adalah mengetahui kapan waktu yang tepat, bagaimana cara berdakwah, dan menyesuaikan kepada siapa kita berdakwah. Teladan dalam hal ini dapat kita saksikan, ketika Rasulullah melarang untuk menghentikan seorang Arab Badui yang sedang kencing di masjid. Seandainya ia disuruh berhenti ketika itu, boleh jadi air kencingnya jatuh ke segala tempat, dan orang itu marah. Namun beliau dengan santun menegurnya setelah ia selesai kencing, dan ia pun menerimanya, bahkan mendoakan Nabi.

Media sosial adalah tempat di mana segala jenis dan tipe, serta karakter orang berkumpul. Hendaknya kita bisa menata bahasa yang baik, waktu yang tepat, dan menyesuaikan dengan objek dakwah kita.

5. Bersabar menghadapi gangguan.

Para Nabi ketika berdakwah tidak lepas dari gangguan, namun mereka tetap sabar. Sebagai contoh, Nabi Nuh ketika dianggap sesat, beliau menjawab:

قَالَ يٰقَوْمِ لَيْسَ بِيْ ضَلٰلَةٌ

“Wahai kaumku, tidaklah ada kesesatan pada diriku.”

Begitu pula Nabi Hud ketika dianggap orang bodoh, beliau menjawab:

قَالَ يٰقَوْمِ لَيْسَ بِيْ سَفَاهَةٌ

“Wahai kaumku, aku bukanlah orang bodoh.”

Mereka tidak membalas cacian dengan cacian, melainkan sekedar menjawab tuduhan.

Demikian kaidah dalam berdakwah di media sosial. Hendaknya kita manfaatkan dengan baik, karena media sosial adalah sarana yang:
1. Awet, sebab terekam dengan baik di internet. Orang bisa membacanya hari ini, esok hari, sampai waktu yang tidak terbatas.
2. Mudah tersebar, karena fasilitas yang mendukungnya.
3. Jangkauan luas, sebab internet pada masa sekarang telah dinikmati oleh hampir semua kalangan.

Semoga kita bisa memanfaatkan media sosial sebaik-baiknya untuk berdakwah, ikhlas mengharap ridha Allah dan mengikuti jalan dakwah para Nabi-Nya.

Aamiin.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *